Arus Balik

Balik ke Jakarta, Pemudik Bawa Ubi, Beras hingga Burung

Ilham wibowo    •    Rabu, 22 Jul 2015 17:07 WIB
mudik lebaran 2015
Balik ke Jakarta, Pemudik Bawa Ubi, Beras hingga Burung
Pria ini membawa hasil bumi ke Jakarta. Foto: MTVN/Ilham Wibowo

Metrotvnews.com, Jakarta: Fendi, 30, tampak kerepotan membawa tas, kardus, dan karung, saat tiba di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Bersamanya ada istri dan seorang anak.

Kardus dan karung yang bikin Fendi repot dan berkeringat ternyata berisi hasil bumi dari kampungnya di Kediri, Jawa Timur. Amanat orangtua, Fendi harus membawa hasil bumi itu ke Jakarta sebagai oleh-oleh.

"Di Jakarta juga ada sebenarnya. Ini ubi dari kebun orangtua saya sendiri, beratnya semua 25 kilogram. Mau enggak mau harus saya angkut, takut kualat," kata Fendi saat berbincang dengan Metrotvnewscom, Rabu (22/7/2015).

Sama seperti Fendi, Dian, 29, perantau asal Subang, Jawa Barat, juga membawa hasil bumi berupa beras. Ia mengaku kewalahan membawa sekarung beras. Belum lagi harus menjaga buah hatinya yang masih kecil dan menenteng tas berisi pakaian.

"Ini beras 30 kilogram. Mertua saya maksa suruh dibawa. Saya nurut saja biar istri senang," tuturnya.




Berbeda dengan Endang, 45. Selain menenteng makanan khas daerah, ia juga membawa beberapa ekor burung Kenari dari kampungnya. Burung-burung itu ia masukkan ke kardus. "Ini saya bawa dari kampung, lumayan di Jakarta harganya relatif masih mahal," kata Endang.

Membawa ubi, beras, atau burung dari kampung halaman mungkin tidak dilarang. Namun, jika beratnya sudah berlebihan tentu bisa membahayakan perjalanan. Tidak adanya sistem pemeriksaan barang bawaan, jadi celah para penumpang membawa apapun.

Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Terminal Kampung Rambutan Laudin Sitomorang mengatakan barang bawaan setiap penumpang memang perlu diperiksa terutama di terminal antarkota dan antarprovinsi.

"Itu nanti bisa menjadi masukan untuk pimpinan kami. Memang seharusnya di terminal antarkota antarprovinsi ini tertutup seperti stasiun kereta api, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk," kata Laudin.


(TRK)