Begini Anak Inklusif Diperlakukan di SMP Negeri 226 Jakarta

LB Ciputri Hutabarat    •    Senin, 27 Jul 2015 12:31 WIB
pendidikan
Begini Anak Inklusif Diperlakukan di SMP Negeri 226 Jakarta
Salah satu pelajar inklusif dikelilingi temannya. (Foto: MTVN/LB Ciputri Hitabarat)

Metrotvnews.com, Jakarta: SMP Negeri 226 di Jakarta Selatan tetap memperlakukan anak berkebutuhan khusus (ABK) atau inklusif sama seperti murid-murid lain. Namun, guru yang mengajar mereka mendapat pelatihan khusus agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
 
Kepala Sekolah SMP Negeri 226 Jakarta Selatan Muhammad Khotim mengatakan, pihaknya tiap tahun selalu melakukan persiapan sejak tahap penerimaan siswa. "Proses penerimaan siswa ABK berbeda dengan yang reguler. Mereka dahulukan anak inklusif supaya bisa dipersiapkan," kata Khotim kepada Metrotvnews.com di Jalan Kayu Kapur, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2015).
 
Setelah melalui penerimaan, tiap anak inklusif ditempatkan di kelas yang berbeda. Menurut Khotim, setiap kelas hanya boleh menampung maksimal dua siswa inklusif agar perkembangan belajarnya bisa dipantau.
 
Pendidikan yang diterima ABK tak jauh berbeda dengan anak reguler. Guru mata pelajaran yang mengajar di kelas juga sama. "Tapi ada pelatihan khusus buat guru yang mengajar. Tapi (pelatihan) masih minim, cuma dua kali setahun. Tiap semester kami memanggil ahli dan psikologi," ujarnya.
 
Selama ini anak-anak reguler menerima dengan baik teman kelasnya yang berkebutuhan khusus. Bahkan, anak berkebutuhan khusus diketahui memiliki kemampuan belajar yang cemerlang.
 
"Anak-anak saling bantu sejauh ini. Ada siswa inklusif di kelas 9 mejadi juara Olimpiade. Pada dasarnya mereka pintar, cuma ada hambatan saja," jelas Khotim.
 
Tahun ini SMP Negeri 226 menerima lima anak berkebutuhan khusus. Empat tunanetra dan satu anak autis. Sampai saat ini jumlah siswa inklusif dari kelas 7 - 9 mencapai 20 orang.
 
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan, setiap anak yang memiliki gangguan perkembangan fisik atau mental, namun cerdas dan memiliki bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan seperti layaknya anak normal dalam lingkungan yang sama dengan keberagaman yang ada di dalamnya. Selain itu, negara memiliki tanggung jawab memenuhi pendidikan dasar ABK dan menjamin mereka tidak mendapatkan diskriminasi dari pihak manapun.


(FZN)