Din Ingin Muhammadiyah Bentuk Partai di Muktamar Makassar

Achmad Zulfikar Fazli    •    Rabu, 05 Aug 2015 15:23 WIB
muktamar muhammadiyah
Din Ingin Muhammadiyah Bentuk Partai di Muktamar Makassar
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikan suara pada sidang pleno III Muktamar ke-47 Muhammadiyah dengan agenda pemilihan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Makassar, Rabu 5 Agustus 2015. Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jakarta: Din Syamsuddin ingin Muhammadiyah membentuk partai politik saat Muktamar di Makassar, Sulawesi Selatan. Dia ingin mengulang sejarah Muhammadiyah menyatakan sikap politik saat Muktamar di Makassar pada 1971.

Din akan mendorong opsi ini ke dalam rapat komisi. "Saya tetap pada khittah Makassar, dimantabkan dan diteguhkan dulu (1971) di Makassar dan sekarang di Makassar. Akan didorong dalam Komisi Organisasi," kata Din di Universitas Muhammadiyah, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2015).

Dia mengatakan, saat ini banyak kader Muhammadiyah yang bergabung dengan partai politik lain karena Muhammadiyah tidak mendirikan partai politik sendiri.

"Saat era partai banyak, banyak tarikan kuat Muhammadiyah mendukung partai politik. Maka saya sajikan opsinya. Mumpung kita ada di Makassar," ujar dia.

Muhammadiyah jangan berkecil hati jika berhasil membentuk partai politik namun akhirnya tidak masuk kabinet. "Tidak perlu peduli jika tidak diakomodir dalam kabinet," kata dia.

Din menawarkan tiga opsi peran Muhammadiyah dalam kancah politik nasional saat Sidang Pleno I Muktamar Muhammadiyah.

Pertama, Muhammadiyah tetap pada jati diri sebagai gerakan dakwah pencerahan yang berorientasi kultural. Meski nantinya menjalankan aktivitas politik, orientasi yang akan dibangun berbasis politik moral atau politik amar makruf nahi mungkar.

Kedua, Muhammadiyah mendirikan partai politik sebagai sebuah amal usaha. Jika tidak, Muhammadiyah mengembangkan hubungan khusus dengan partai politik tertentu sebagai partai politik utama.

Terakhir, Muhammadiyah tetap sebagai gerakan dakwah pencerahan yang berorientasi kultural. Namun saat pileg ataupun pilpres, Muhammadiyah akan mendukung calon yang dapat memperjuangkan kepentingan Muhammadiyah.

Sementara, cendikiawan Muslim Azyumardi Azra mengatakan Muhammadiyah lahir bukan untuk mendirikan partai politik. Dia yakin Muhammadiyah akan gagal bila merubah tradisi.

"Muhammadiyah tidak terlalu kondusif untuk membuat partai politik karena tradisinya dakwah pendidikan dan dakwan sosial," kata Azyumardi, Selasa 4 Agustus.

Azyumardi mengingatkan bahwa Muhammadiyah pernah merasakan pengalaman pahit saat mendirikan Partai Matahari Bangsa (PMB). Menurutnya, lebih baik kader Muhammadiyah masuk partai besar, ketimbang membangun partai sendiri.

"Dalam pemilu lalu pernah membuat PMB dan tidak lolos. Pilihan terbaik adalah kader bergabung dengan partai mainstream yang sudah besar," imbuh dia.


(TRK)