Bidang Pengawasan Kejagung Dinilai Belum Transparan

Wandi Yusuf    •    Rabu, 05 Aug 2015 15:47 WIB
kejaksaan agung
Bidang Pengawasan Kejagung Dinilai Belum Transparan
Anggota Komisi Kejaksaan RI periode 2011-2015,--Foto: Dok/komisi-kejaksaan.go.id

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Kejaksaan RI menilai sistem pemeriksaan atau pengawasan internal di Kejaksaan Agung belum transparan. Juga tak mengedepankan asas akuntabilitas.

"Selama ini hasil pemeriksaan jaksa tidak pernah jelas, mana yang bersalah dan yang tidak terhadap laporan masyarakat. Hasil pemeriksaannya juga tidak pernah dipublikasikan," kata Komisioner Komisi Kejaksaan RI Kaspudin Nor dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/8/2015).

Menurut Kaspudin, sudah tugas bidang pengawasan untuk menyampaikan ke publik hasil pemeriksaan anggota Korps Adhyaksa. "Agar masyarakat tahu dan turut mengawasi, apakah seorang jaksa bersalah atau tidak. Agar tak ada upaya kriminalisasi terhadap jaksa," tuturnya.

Bagi jaksa yang merasa dikriminalisasi, Kaspudin meminta, mereka melapor ke Komisi Kejaksaan dan Komisi III DPR. "Gunakan dua sarana itu untuk memperoleh haknya dan mendesak Kejaksaan memberikan status clearance dari masalah yang dituduhkan. Jika tidak demikian, dikhawatirkan akan disalahgunakan pihak tertentu untuk menghambat karir yang bersangkutan," cetusnya.

Praktisi hukum Akbar Hidayatullah mengatakan, selama ini penegak hukum, khususnya Kejaksaan, belum benar-benar melakukan reformasi birokrasi di sektor pengawasan.

"Tidak transparan. Padahal, akuntabilitas maupun transparansi di sektor pengawasan bisa dijadikan faktor pemberian reward dan punishment. Namun, tidak berjalan semestinya. Yang ada, jaksa yang berprestasi justru disingkirkan. Kejaksaan harus mencontoh Polri dalam hal ini," kata Akbar.

Menurutnya, hal ini disebabkan karena sumber daya manusia di bidang pengawasan Kejaksaan diduga banyak yang bermasalah. "Rahasia umum jika bidang pengawasan diisi orang-orang yang bermasalah. Kan konyol, ketika orang bermasalah memeriksa orang yang diduga bermasalah," tandas dia.


(MBM)