Jokowi: IHSG Lemah Tidak Hanya di Indonesia

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 10 Aug 2015 10:48 WIB
ihsg
Jokowi: IHSG Lemah Tidak Hanya di Indonesia
Presiden Joko Widodo (MI/PANCA SYURKANI)

‎Metrotvnews.com, Jakarta: Pergerakan Indeks Harga Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus mengalami pelemahan merupakan dampak dari perlambatan ekonomi dunia. Namun, pelemahan tersebut tidak hanya dialami oleh Indonesia. Pasalnya, beberapa bursa di negara berkembang dan maju juga mengalami hal serupa.

"Kita tahu IHSG melemah tapi kita tahu tidak hanya terjadi di Indonesia. Dialami banyak negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Ini konsekuensi melambatnya ekonomi dunia," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi), ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (10/8/2015).

Jokowi mengatakan, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan adanya perlambatan ekonomi di Indonesia. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan salah satu pertumbuhan ekonomi lima besar di dunia.

‎"Jadi, kalau ada yang pesimistis menurut saya keliru. Kita harus tetap optimistis. Negara lain ada yg turun sampai 1,5-2 persen. Kita turun 0,3 persen saja sudah ramai," tegas mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Dia tak memungkiri bahwa belanja infrastruktur dan belanja barang memang penyerapannya masih relatif kecil. Apalagi sampai dengan Juni 2015, penyerapan belanja modal baru mencapai 12 persen. Namun, dirinya menegaskan bahwa pemerintah siap menggenjot belanja tersebut di semester II-2015.

"Saya tiap harinya rapat serapan saja. Saya ikuti (perkembangan belanja modal dan belanja infrastruktur). Belum juga belanja BUMN. Infrastruktur Rp120 triliun juga baru mulai semester II-2015 ini. Jadi, kalau melambat 0,3 persen ya karena pertumbuhan ekonomi dunia (melambat)," tuturnya.

Lebih lanjut Jokowi menegaskan, dari sisi internal, pemerintah akan terus mendorong agar serapan anggaran sampai akhir tahun bisa mencapai 93 persen. Target itu diharapkan bisa tercapai, yang salah satunya Jokowi telah menanyakan kepada masing-masing kementerian terkait serapan belanja tersebut.

"Kemarin hitung-hitung setiap kementerian berapa sih yang diserap. Kami tanya satu per satu. Saya langsung tanya dari menterinya. Jadi, 93 persen serapan anggaran sampai akhir tahun," pungkas dia.


(ABD)