Merombak Kabinet, Memulihkan Ekonomi

   •    Kamis, 13 Aug 2015 06:06 WIB
reshuffle kabinet
Merombak Kabinet, Memulihkan Ekonomi

DALAM negara yang menganut sistem presidensial, merombak kabinet ialah hak prerogatif presiden. Ia menjadi hak sepenuhnya seorang presiden. Perombakan kabinet pasti punya pertimbangan, memiliki dasar. Presiden Jokowi menjadikan perlambatan ekonomi, baik akibat faktor eksternal maupun internal, sebagai dasar dan pertimbangan perombakan kabinet, kemarin.

Itu artinya Presiden berharap perombakan kabinet dapat menggairahkan ekonomi kembali. Rakyat pun punya harapan yang sama dengan Presiden. Persoalannya, tak berapa lama setelah Presiden melantik menteri-menteri baru, pasar bereaksi negatif. Nilai rupiah melorot. Indeks harga saham gabungan juga anjlok.

Tanda-tanda reaksi negatif pasar sudah muncul ketika spekulasi nama-nama calon menteri beredar di publik. Boleh jadi penyebab reaksi negatif pasar ialah faktor eksternal, yakni Tiongkok yang mendevaluasi yuan. Bisa jadi pula, reaksi negatif itu hadir karena terlampau tingginya ekspektasi pasar.

Pasar mungkin berharap menteri ekonomi yang dirombak bukan cuma menteri koordinator perekonomian dan menteri perdagangan. Bahkan pasar berharap perombakan kabinet menyasar menteri-menteri lain yang selama 10 bulan terakhir dipandang berkinerja buruk. Namun, sudahlah. Toh Jokowi telah mengocok ulang kabinet yang menjadi hak prerogatifnya.

Kitalah yang perlu menurunkan ekspektasi yang mungkin terlalu berlebihan itu. Kita berharap saja kabinet bisa bekerja secara lebih terkonsolidasi sehingga ekonomi bisa cepat pulih. Kita sangat berharap dua menko baru, yakni Menko Perekonomian Darmin Nasition dan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, mampu mengonsolidasikan para menteri di bawah mereka, untuk bekerja bersama mengatasi berbagai persoalan ekonomi.

Keduanya ialah ekonom senior yang hebat. Yang tak boleh terjadi bila keduanya, karena sama-sama merasa hebat, bersaing. Tentu menjadi tugas presiden sebagai konduktor untuk mengharmoniskan irama orkestra kabinet. Kita juga berharap banyak pada Menteri Perdagangan Thomas Lembong. Dia yang dikenal cerdas dan merupakan profesional di bidang ekonomi dan bisnis diharapkan mampu menggenjot ekspor.

Pun, kita berharap ia sanggup melawan segala mafia, apakah itu mafia beras, gula, atau daging, yang berpuluh-puluh tahun menyengsarakan rakyat. Pertumbuhan ekonomi tentu saja tidak tercapai tanpa perencanaan pembangunan yang matang. Di sinilah peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil.

Sofyan yang dinilai payah dalam koordinasi ketika menjadi menko perekonomian mesti menunjukkan diri bahwa dia bisa bekerja. Peran dua menteri lainnya, yakni Menko Polkam Luhut Panjaitan dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, juga penting dalam membantu percepatan pertumbuhan ekonomi, meski keduanya bukan menteri ekonomi. Keduanya berperan dalam mengurangi kegaduhan politik.

Bukankah kebisingan politik dapat menghambat pembangunan ekonomi? Kita menginginkan perombakan kabinet dapat memberi energi baru bagi pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk bekerja lebih keras dan nyata demi memulihkan ekonomi. Kerja keras, juga kerja nyata, akan membangun kembali kepercayaan pasar sehingga ekonomi bisa cepat tumbuh. Keberhasilan suatu pemerintahan dilihat dari kesuksesannya memajukan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.