Kurtubi: Kita Butuh Lebih dari 35.000 MW untuk Kebutuhan Nasional

Arif Wicaksono    •    Rabu, 19 Aug 2015 18:00 WIB
listrik
Kurtubi: Kita Butuh Lebih dari 35.000 MW untuk Kebutuhan Nasional
Ilustrasi listrik. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com, Jakarta: Pertunjukan saling sanggah antara Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli memasuki babak yang semakin memanas. Rizal sempat menantang debat terbuka antara dirinya dengan Wapres Jusuf Kalla.
 
Pasal yang diperdebatkan kali ini sudah bukan lagi soal rencana pembelian pesawat untuk maskapai Garuda Indonesia. Rencana pembangunan pembangkit listrik sebesar 35.000 megawatt (mw) ditentang Rizal dengan alasan rencana tersebut tidak realistis dan hanya menjadi proyek ambisius.
 
Menanggapi perdebatan soal benar tidaknya Indonesia butuh 35 ribu mw listrik nasional, Anggota Fraksi NasDem Kurtubi mengatakan bahwa memang Indonesia membutuhkan elektrifikasi yang besar.
 
“Kita memang sangat membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik untuk bisa meningkatkan elektrifikasi ratio yang secara nasional masih rendah, sekitar 85 persen,” jelas Kurtubi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/8/2015).
 
Pakar energi ini juga mengatakan bahwa rata-rata konsumsi listrik masyarakat Indonesia masih jauh lebih rendah ketimbang negara tetangga, Malaysia. Dengan perbandingan tingkat konsumsi 1:5 antara Indonesia dengan Malaysia, terlihat bahwa Malaysia jauh lebih makmur ketimbang Indonesia.
 
Sebagai informasi, konsumsi listrik per kapita Indonesia menurut data IEA 2012 hanya sebesar 733 kWh, sedangkan Malaysia ada di 4.313 kWh per kapita. Sementara itu Singapura di 8.690 kWh per kapita dan Jerman 7.270 kWh per kapita. Sedangkan kapasitas tenaga listrik terpasang sampai akhir 2014, kurang lebih 50.000 mw untuk memenuhi kebutuhan 250 juta jiwa bangsa Indonesia. 
 
Kurtubi juga menyampaikan bahwa di daerah pemilihannya sendiri, di NTB paling tinggi rasio elektrifikasi hanya sekitar 65 persen. Hal ini diperhitungkan dari tingkat konsumsi rumah tangga saja. Padahal pemerintah juga sedang giat membangun kawasan timur Indonesia.
 
“Investasi dan pertumbuhan ekonomi mustahil bisa ditingkatkan jika listrik kurang,” keluhnya.
 
Untuk itu Kurtubi meminta polemik soal kebutuhan 35 ribu megawatt listrik yang di kritik Rizal Ramli tidak perlu diperluas. Dia menyarankan pemerintah lebih berkonsentrasi untuk mencari solusi menyempurnakan sistem investasi dan pembangunan kelistrikan nasional. Agar ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tidak semakin tertinggal dibanding dengan negara-negara tetangga.


(SAW)