Dimebag Darrell, Gitaris Berbakat yang Bernasib Tragis

Agustinus Shindu Alpito    •    Jumat, 21 Aug 2015 10:08 WIB
feature showbiz
Dimebag Darrell, Gitaris Berbakat yang Bernasib Tragis
Dimebag Darrell (Foto: billboard.com)

NAMA Darrell Lance Abbott perlahan memudar seiring waktu. Tetapi tidak dengan kisah hidupnya yang tragis sekaligus melegenda. Lahir pada 20 Agustus 1966, pria yang dikenal dengan nama Dimebag Darrell itu tumbuh jadi musisi yang liar.

Darrell merupakan gitaris metal terhormat se-antero jagat. Majalah Metal Hammer menobatkan Darrell sebagai gitaris terbesar. Sedangkan majalah Rolling Stone menempatkannya di urutan ke-92 dalam daftar 100 gitaris tersohor sepanjang masa.

Tidak ada yang aneh pada kehidupan Darrell pada mulanya. Dia adalah putra dari pasangan Carolyn dan Jerry Abbott, seorang produser dan musisi country. Jiwa liar Darrell sudah tampak sejak kecil. Sebelum menginginkan gitar, dia lebih dulu tertarik pada sepeda BMX.

Seperti gitaris-gitaris besar lainnya, Darrell sudah memegang instrumen musik di usia dini, yaitu 12 tahun. Gitar pertamanya adalah Hondo Les Paul, berikut sebuah amplifier kecil.

Singkat cerita, Darrell seperti menemukan kehidupan baru bersama gitar. Dia lantas mulai menjadi jagoan kompetisi musik. Di usia 15 tahun, Darrell sudah mencetuskan konsep Pantera bersama kakaknya, Vincent Paul Abbott. Kelak, Pantera jadi salah satu band paling berpengaruh di ranah metal.

Keputusan Darrell membuat Pantera terbilang tepat. Dekade awal 1980-an dunia musik memang sedang diinvansi oleh kehadiran band-band yang lebih cadas dari rock & roll, mulai dari Slayer, Metallica, hingga Megadeth. Pantera pun seolah ingin berpartisipasi dalam gelombang metal pada saat itu.

Perjalanan Darrell bersama Pantera bukan tanpa halangan, band asal Arlington, Texas, itu gagal mencuri perhatian di awal kehadirannya. Baru pada awal dekade 1990-an, setelah mereka merilis Cowboys from Hell, nama Pantera mulai dilirik. Pantera versi Cowboys from Hell terdengar lebih kencang, lebih galak, lebih menunjukkan musikalitas para personellnya, terlebih Darrell.

Layaknya band-band besar lainnya, konflik internal tak bisa dihindari. Pantera bubar di tahun 2013. Namun mereka telah berhasil merilis sembilan album.

Bubarnya Pantera bukan hal buruk terakhir yang dialami Darrell. Pria yang tampak garang dengan rambut panjang dan tato di sekujur tubuhnya itu kemudian melanjutkan kariernya dengan band Damageplan. Band yang dibentuk Darrell dan Abbott setelah hancurnya Pantera.

Sambutan publik atas kehadiran Damageplan cukup baik. Band itu berhasil menjual 44.676 kopi dalam album debutnya, New Found Power, hanya dalam satu pekan penjualan.

8 Desember 2004, Darrell tewas ditembak saat tampil bersama Damageplan di Alrosa Villa, Columbus, Ohio. Seorang mantan marinir berusia 25 tahun, Nathan Gale, menggunakan pistol Beretta 92FS dan peluru berkalibar 9mm tega menembak Darrell sebanyak tiga kali di kepalanya. 

Selain Darrell, tiga orang lain tewas akibat ulah Gale. Nasib Gale pun sama dengan para korbannya, dia tewas ditembak oleh polisi. Kematian Gale membuat motivasi penembakan simpang siur.

Ada beberapa spekulasi soal motivasi penembakan tersebut, mulai dari kekecewaan Gale terhadap bubarnya Pantera, hingga perasaan Gale yang menganggap Darrell mencuri lagu-lagunya.


(AWP)