Pelajari Racun, Peneliti Ini Sengaja Digigit Ular 26 Kali

Fajar Nugraha    •    Selasa, 25 Aug 2015 12:50 WIB
unik
Pelajari Racun, Peneliti Ini Sengaja Digigit Ular 26 Kali
Dokter Fry dengan ular yang menjadi penelitiannya (Foto: ABC Australia)

Metrotvnews.com, Queensland: Seorang peneliti Australia sengaja digigit ular sebanyak 26 kali. Maksudnya ditujukkan untuk meneliti bisa atau racun ular.

Dokter Fry adalah profesor di Jurusan Biologi di University of Queensland di mana dia belajar mengenai berbagai jenis bisa ular dan kemungkinan penggunaannya bagi obat. Semua berawal dari ketika masih bayi dia pernah menderita radang tulang.

Dia sudah pernah muncul dalam lebih dari 70 film dokumenter untuk Animal Planet, BBC dan Discovery Channel, dan itu semua karena penyakit yang dideritanya ketika bayi. Di usia 18 bulan, dia harus masuk rumah sakit karena radang tulang belakang tersebut.

"Sakitnya luar biasa ketika itu, dan akibatnya kuping sebelah kanan saya tidak bisa mendengar lagi, dan juga memberikan ide mengenai racun, bagaimana sesuatu bisa mengubah hidup kita selamanya," kata Fry kepada ABC Australia Plus, Selasa (25/8/2015).

Kecintaannya akan binatang dan minatnya akan racun sudah membuat Dr Fry berulang kali menghadapi bahaya.

"Gigitan ular yang paling mengerikan adalah ketika saya digigit ular yang dikenal dengan nama Stephen banded snake. Anus saya berdarah, juga mulut," tuturnya.

"Saya khawatir sekali bahwa pendarahan itu akan ke otak, dan bila itu terjadi, walau hidup, saya pasti mengalami cacat permanen," ungkapnya.

Dia membandingkan gigitan ular seperti ketika seseorang mengkonsumsi narkoba. "Gigitan ular pertama rasanya seperti mengalami halusinasi, seperti melayang, dan juga seperti terkena serangan jantung," imbuh Fry.

"Pernah juga di Australia, setelah digigit ular, selama delapan jam, saya mengalami kelumpuhan, seperti melayang melewati waktu ratusan tahunan," ucap Fry.

Dengan mengalami berbagai gigitan ular ini, Dr Fry sudah menghasilkan berbagai terobosan dalam penelitian racun ular yang bisa membuka jalan bagi pengembangkan obat yang bisa menangani penyakit yang mematikan.
 


(FJR)