Vokalis Seringai Komentari Kinerja Ahok

Agustinus Shindu Alpito    •    Kamis, 27 Aug 2015 13:37 WIB
ahok
Vokalis Seringai Komentari Kinerja Ahok
Vokalis Seringai, Arian (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dua pekan terakhir, pemberitaan media menyorot relokasi warga bantaran kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur.

Meski belum menyimak persoalan Kampung Pulo secara rinci, vokalis band Seringai, Arian, memberikan opininya tentang pembangunan yang akhir-akhir ini cukup masif di Jakarta.

"Gue belum lihat secara detail persoalan Kampung Pulo. Yang gue lihat kesalahan dari pemerintah yang lama sehingga terjadi seperti itu. Misal, hal itu ilegal, tapi air dan listrik masuk ke situ," kata Arian saat ditemui Metrotvnews.com di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2015).

Sebagai warga Jakarta, Arian mengakui bahwa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, membawa perubahan positif.

"Kalau isu dipolitisir untuk menjatuhkan Ahok dari kubu itu lagi, itu lagi, rasanya garing. Kalau gue merasakan sejak zaman Ahok, sejak dia jadi wakil gubernur sampai sekarang, banyak hal menjadi lebih baik. Mungkin belum terlalu terasa. Misal, jalan macet karena pembangunan. Ya iya, karena kita dari dulu enggak mengurusi hal itu. Masak kota sebesar Jakarta enggak punya transportasi massal?" lanjut Arian.

Soal relokasi rumah susun, Arian secara umum berpendapat bahwa setiap pembangunan pasti ada konsekuensi yang tidak bisa dipisahkan. Pria yang dikenal vokal menyorot persoalan dan fenomena sosial itu secara bijak menilai bahwa Ahok sudah melakukan tugasnya dengan baik.

"Gue lihat foto rumah susun yang untuk relokasi (rusun), bagus. Gue mau dong, hehehe. Kalau memang diganti dengan rusun, gue setuju. Intinya, kalau pembangunan mau lebih baik, banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Kalau pemerintah yang lalu enggak beres membenahi Jakarta, sayangnya malah Ahok yang kena caci makinya. Kalau gue lihat, he's one of the good guys," puji Arian.

Soal konsekuensi pembangunan Jakarta saat ini, Arian juga mengalaminya. Namun, dia tidak terlalu ambil pusing, terutama soal kemacetan. Arian memilih mencari moda transportasi alternatif yang efektif.

"Gue mengakali (kemacetan) dengan berjalan kaki atau bisa dengan motor, sepeda, ojek. Tapi gue enggak nyaman berjalan kaki karena enggak ada trotoar. Kalau ada motor lewat trotoar, biasanya gue tendang-tendangin. Enggak nyaman juga karena ada pedagang di trotoar," ujar Arian mengkritik kondisi Ibu Kota.


(ROS)