Teka-teki Hilangnya Surat Rekomendasi PAN untuk Rasiyo-Dhimam Terjawab

Amaluddin    •    Senin, 31 Aug 2015 18:55 WIB
pilkada serentak
Teka-teki Hilangnya Surat Rekomendasi PAN untuk Rasiyo-Dhimam Terjawab
Pasangan Rasiyo-Dhimam gagal mengikuti pilkada Kota Surabaya. Foto: MI

Metrotvnews.com, Surabaya: Teka-teki hilangnya surat rekomendasi asli Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional terjawab. Wakil Ketua Umum DPP PAN, Suyoto, menceritakan kronologi keberadaan surat rekomendasi itu.

"Yang jelas, surat rekomendasi yang asli itu diambil orang suruhan pak Dhimam Abror. Kenapa belum diserahkan hingga batas waktu yang telah ditentukan? Tanyakan sama pak Dhimam," kata politikus yang juga birokrat itu, di kantor DPW PAN Jawa Timur, Jalan Darmo Kali, Surabaya, Jawa Timur, Senin (31/8/2015).

Bupati Bojonegoro itu membeberkan, pada Selasa, 11 Agustus, PAN menggelar Musyawarah Wilayah di Kediri. Acara itu bertepatan dengan batas akhir perpanjangan pendaftaran tahap kedua yang kembali dibuka, 9-11 Agustus.

Dia menjelaskan, Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Soekarwo, mengingatkan PAN agar pada 11 Agustus membawa surat rekomendasi yang asli untuk pasangan Rasiyo-Dhimam Abror ke Surabaya.

"Tapi kami baru bisa Selasa pagi sekitar pukul 04.00 WIB. Karena terbatasnya waktu, akhirnya kami men-scan (memindai) surat rekomendasi yang asli itu ke Pak Surat (Ketua DPD PAN Surabaya). Dan itu sudah diketahui ketua umum dan sekjen DPP PAN. Itu jelas dan sangat asli," katanya.


(Perbedaan Surat Rekomendasi hasil pindaian dan yang asli)

Namun, lanjut Suyoto, pihaknya tidak bisa mengantarkan surat tersebut. Akhirnya, orang suruhan Dhimam yang mengambil surat rekomendasi asli ke DPP PAN pada hari yang sama.

"Surat yang asli itu diambil Selasa pagi, sekitar pukul 10.00 WIB oleh utusan Pak Dhimam. Harapannya, Selasa malam bisa diserahkan ke KPU Kota Surabaya. Namun, utusan Dhimam yang diketahui bernama Hani Siri Seno itu ternyata tidak menyerahkan aslinya. Anggap saja surat itu hilang," katanya.

Dhimam Abror Djuraid saat itu sempat dimintai keterangan mengenai keberadaan surat. Dia mengaku masih mencoba menghubungi utusannya tersebut. Dhimam juga mengatakan dirinya sudah mencoba mendatangi rumah Hani. Ternyata keluarganya tak mengetahui keberadaan Hani.

Karena diduga hilang, DPP PAN kembali membuat arsip baru dengan tanda tangan basah. "Tentu arsipnya baru, tapi itu sama-sama aslinya," kata Suyoto.

Dokumen surat rekomendasi itulah yang kemudian diserahkan ke KPU Kota Surabaya pada masa perbaikan dokumen persyaratan pencalonan dan syarat calon pada 19 Agustus.

Salah satu alasan KPU Kota Surabaya mengugurkan pasangan Rasiyo-Dhimam adalah surat rekomendasi hasil pindaian berbeda dengan surat asli bertanda tangan basah.

Perbedaan ditemukan di antaranya nomor surat, penulisan angka nomor surat, dan nomor seri angka materai. Selain itu, Dhimam juga terjegal karena tidak menyertakan surat keterangan bahwa ia tidak mempunyai tanggungan pajak. KPU Surabaya sudah melakukan klarifikasi ke kantor pajak dan hanya dokumen milik Rasiyo yang dinyatakan lengkap.


(UWA)