Mencegah Keguguran Berulang pada Wanita Rhesus Negatif

Nia Deviyana    •    Jumat, 04 Sep 2015 14:26 WIB
darah rhesus negatif
Mencegah Keguguran Berulang pada Wanita Rhesus Negatif
Keguguran risiko yang dihadapi wanita rhesus negatif. (foto:pregnancyandbaby.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keguguran berulang merupakan salah satu risiko yang dihadapi wanita pemilik darah rhesus negatif yang mengandung janin rhesus positif. Hal tersebut terjadi jika darah ibu bercampur dengan darah janin. Saat itu terjadi, darah rhesus negatif akan membentuk Antibodi RhD untuk menyerang sel darah merah janin rhesus positif, yang bisa berdampak keguguran atau kondisi yang menyiksa janin.

Bila ibu rhesus negatif menunjukkan kadar antibodi yang tinggi dalam darahnya, peluang keguguran menjadi cukup tinggi. Karenanya, butuh penanganan khusus terhadap janin yang dikandung, yakni dengan monitoring reguler dengan scanner ultrasonografi.

Dengan metode ini, dokter akan memantau masalah pada pernafasan, peredaran darah, cairan paru-paru, atau pembesaran hati, yang merupakan gejala-gejala penderitaan bayi akibat rendahnya sel darah merah akibat penyerangan antibodi RhD.

Menurut Dr. Natalina Christanto dari Ketua Rhesus Negatif Aceh, tindakan lain yang biasanya diambil, yakni dengan melakukan pengecekan amniosentesis secara berkala untuk mengecek level anemia dalam darah bayi. Namun, tindakan ini berpotensi menyebabkan peluang bercampurnya darah ibu dengan bayi. Sehingga, sebelum dilakukan tindakan ini, dianjurkan untuk dilakukan penyuntikan Rho Immunoglobulin.

Pada kasus tertentu, kadang diputuskan untuk melakukan persalinan dini, namun harus dipastikan, usia janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan di luar rahim. Tindakan tersebut, kemudian akan diikuti dengan penggantian darah janin dari donor yang tepat.  

Pada kasus yang lebih gawat, yakni janin belum cukup kuat untuk dibesarkan diluar, akan dilakukan transfusi darah terhadap janin di dalam kandungan (transfusi ganti intra-uterin). 

Biasanya, bila usia kandungan belum mencapai 30 minggu. Proses transfusi ini akan diawasi secara ketat dengan scanner ultrasonografi, dan bisa diulang beberapa kali hingga janin mencapai ukuran dan usia yang cukup kuat untuk diinduksi.

Setelah lahir, bayi akan mendapat beberapa pemeriksaan darah secara teratur untuk memantau kadar bilirubin dalam darahnya. Bila kadar bilirubin benar-benar berbahaya akan dilakukan penggantian darah dengan transfusi.

Kadar cairan dalam paru-paru dan jantungnya juga akan diawasi dengan ketat, demikian juga dengan kemungkinan anemia.


(LOV)