Kisah PSK Sarkem, Dari Komunitas Terbitlah Buku

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 04 Oct 2015 12:58 WIB
prostitusi
Kisah PSK Sarkem, Dari Komunitas Terbitlah Buku
Foto: Gus Miftah memberikan ceramah di hadapan warga dan PSK Sarkem, Yogyakarta/MTVN_Patricia

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Pasar kembang atau yang akrab disebut Sarkem menjadi kawasan PSK terbesar di Yogyakarta. Lokasi PSK yang telah beroperasi puluhan tahun di dekat Stasiun Tugu itu menjadi tempat mencari penghidupan bagi ratusan orang.

"(PSK-nya) ada sekitar 250 orang. Banyak yang domisili di luar (Kota Yogyakarta)," kata seorang Ketua kelompok PSK, SR, 48, saat ditemui di sebuah losmen di Sosrowijayan, Sabtu (3/10/2015).

SR mengatakan ratusan PSK yang beroperasi di Sarkem didominasi orang luar DIY. Bahkan, yang dari DIY diperkirakan sebanyak 5 persen dari jumlah tersebut.

"Didominasi dari luar DIY. Banyak yang aslinya dari Jepara (Jawa Tengah). Tapi, kalau ditanya tak langsung bilang daerah asalnya," kata dia.

Sarkem menjadi lokasi PSK yang beroperasi langsung tanpa melalui perantara atau tradisional. Rata-rata, SR melanjutkan, para perempuan tersebut bekas korban suami yang memilih berpaling dengan perempuan lain.

"Suami punya wanita lagi, kemudian ditinggal. Mereka lalu berpikir menghidupi anaknya. Akhirnya mereka menjadi PSK. Usianya mulai 20-an tahun ke atas, bahkan ada yang 50 tahun," ucapnya.

Para PSK tak diberi batasan harga untuk melayani pelanggan. Mereka diberi kebebasan menentukan harga kepada pelanggan. Rata-rata harga yang diminta ke pelangga Rp200 ribu sudah termasuk penginapan atau losmen.

"Tapi kalau memilih (kencan) di luar keamanan ditanggung sendiri dan nilainya beda. Kalau di losmen sekitar sudah dijaga RW," ujarnya.

Dalam dua tahun terakhir para PSK jauh dari tindakan kriminal. Hal itu beda dengan 2010 dan 2013 yang terjadi masing-masing dua tindak kriminal.

Pada 2010, terjadi dua tindak kekerasan terhadap PSK dengan cara meracuni. Lalu, 2013, terjadi pula dua kali upaya pembunuhan dengan cara penusukan, namun korban bisa terselamatkan. "Tahun-tahun terakhir ini kekerasan tidak ada," ujarnya.

Puluhan tahun beroperasi, para PSK akhirnya memutuskan berserikat dengan membentuk organisasi bernama Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY) pada 2011. Organisasi tersebut sebagai wadah untuk memberikan edukasi dan advokasi jika terjadi kasus.

Bahkan, sekitar awal 2015 lalu, PS3Y mampu menerbitkan satu yang berisi cerita-cerita awal mula perempuan memutuskan menjadi PSK.

"Bukunya berisi riwayat sejarah para pekerja sampai menjadi PSK. Ini biar orang luar tidak melihat sisi buruknya saja. Selain itu, ada juga sekolah sore yang berisi materi kesehatan reproduksi dan pengetahuan HIV/AIDS," katanya.


(UWA)