Kunjungan Dubes ASEAN ke Kompleks Industri di Korut

Fajar Nugraha    •    Selasa, 06 Oct 2015 13:32 WIB
korea utara
Kunjungan Dubes ASEAN ke Kompleks Industri di Korut
Rombongan RI mendengarkan penjelasan mengenai kawasan industri di kota Kaesong, Korut. (Foto: KBRI Pyongyang)

Metrotvnews.com, Kaesong: Dalam rangka mengenal lebih dekat negara akreditasi dan sejarah Korea, para duta besar negara anggota ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Committee in Pyongyang (ACP) dan staf melakukan kunjungan ke kota Kaesong, Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) pada 29 September 2015.
 
Dalam kunjungan ini rombongan ACP didampingi oleh tiga pejabat dan staf Kementerian Luar Negeri Korea Utara.
 
Rombongan ACP (Kamboja, Indonesia, Malaysia, Laos dan Vietnam) yang dipimpin oleh Duta Besar RI/Ketua ACP Bambang Hiendrasto berangkat bersama  pejabat/staf Kemlu Korea Utara dengan kendaraan masing-masing dari Pyongyang pukul 8 pagi menuju kota Kaesong, 160 km di tenggara kota Pyongyang.
 
Di kota Kaesong, rombongan mengunjungi Kaesong Industrial Complex (KIC), perkebunan ginseng (Koryo Insam) yang terkenal kualitasnya, serta Museum Koryo dan Makam Raja Wang Gon (877-943), pendiri dinasti Koryo yang pertama kali mempersatukan Korea dalam sejarah bangsa Korea.
 
Pada acara makan malam ACP dengan Direktur Jenderal Hubungan Luar Negeri, Komite Rakyat Kota Kaesong, Kim Ryong Mun dan pejabat/staf Kemlu Korea Utara di Janamsan Hotel, Dubes RI menyampaikan, Kaesong yang di masa lalu merupakan ibu kota Korea kini menjadi lokasi KIC, tempat di mana Korea Utara dan Korea Selatan bekerja sama untuk kepentingan bangsa Korea. Dubes RI berharap setelah kunjungan ini dapat diperoleh pemahaman lebih dalam mengenai sejarah bangsa Korea serta Korea Utara dan perkembangannya di masa kini.
 
Kaesong Industrial Complex, Simbol Perdamaian Korea
 
Setelah berkendara dari Pyongyang selama dua jam, termasuk singgah di rest area, Sohung Rest House, rombongan memasuki Kawasan Industri Kaesong (Kaesong Industrial Complex/KIC), sekitar 10 km di sebelah utara Demiliterized Zone (DMZ), yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan.
 
KIC merupakan proyek kerja sama ekonomi  Korea Utara dan Korea Selatan yang diawali secara resmi dengan penandatanganan "Agreement on Construction and Management of Kaesong District Industrial between LH Corporation, Hunday Asan and North Korea's Asia-Pacific Peace Committee/National Economic Cooperation Federation" pada tahun 2000. Sejak tahun 2004 perusahaan Korea Selatan mulai beroperasi di KIC dengan mempekerjakan warga Korea Utara.
 
Kedatangan rombongan di kompleks ini disambut hangat oleh Vice Chairman Kaesong Industrial District Management Committee, Dr. Sangcho Choi. Sebelum memasuki gedung perkantoran, tuan rumah mengajak rombongan untuk berfoto bersama di halaman depan gedung perkantoran KIC.
 
Kemudian Dr. Sangcho Choi dan pemandu, keduanya warga Korea Selatan, memberikan penjelasan mengenai sejarah KIC dan perkembangan kegiatan operasionalnya di lantai dasar gedung perkantoran bertingkat 15 lantai ini, dan kemudian di lantai yang sama rombongan menuju ruang pamer untuk melihat berbagai barang produk KIC. Setelah itu, rombongan diajak untuk menyaksikan pemandangan kawasan industri yang menempati lahan seluas 60 kilometer persegi ini dari lantai 15 gedung.
 
Menurut Dr. Choi, hingga pengembangan tahap II saat ini sebanyak 123 perusahaan (Korea Selatan) beroperasi di KIC, meliputi pabrik/perusahaan garmen, elektronik, peralatan mesin, kimia, makanan, kertas, kayu dan sepatu. Semua produk KIC dikirim ke Korea Selatan dan selanjutnya sebagian dieskpor ke berbagai negara lain.
 
Jumlah nilai produksi sejak 2005 hingga 2014 mencapai USD 2,6 miliar, dengan nilai ekspor sebesar USD 262 juta.
 
Apabila rencana pembangunan tahap III dapat diselesaikan, yang saat ini belum diketahui kapan kepastiannya, maka jumlah perusahaan yang beroperasi di KIC akan bertambah menjadi 195 perusahaan/pabrik.
 
Jumlah pekerja di KIC saat ini mencapai sekitar 55.000 orang, terdiri atas 800 warga Korea Selatan dan 54.200 warga Korea Utara. Mereka tinggal di apartemen masing-masing di kompleks ini. Sementara pada tahun 2005 jumlah pekerja sekitar 6000 orang, 500 orang diantaranya adalah warga Korea Selatan.
 
Dalam kunjungan ke KIC ini, Dubes RI dan rombongan berkesempatan meninjau dua pabrik, yaitu pabrik sepatu dan garmen.
 
Pabrik sepatu di KIC memproduksi "sepatu reunifikasi", yang bagian atasnya dibuat di Korea Utara (KIC), sementara bagian bawah sepatu dibuat di Korea Selatan. Setiap hari, sebanyak 3.000 pekerja pabrik tersebut mampu menghasilkan 10.200 pasang sepatu. Dari KIC, sepatu tersebut dikirim ke Korea Selatan untuk kemudian diekspor ke negara lain.
 
Demikian pula, produk garmen dengan label "Made in Korea" dikirim ke Korea Selatan dan selanjutnya didistribusikan ke negara lain. Selain di Kaesong, pabrik garmen yang dikunjungi rombongan, yaitu Shin Won,  memiliki sejumlah pabrik di negara-negara ASEAN, termasuk 2 pabrik di Indonesia.
 
Keberadaan KIC selama lebih dari 10 tahun tidak hanya berperan penting dalam kerja sama ekonomi bagi kedua Korea, namun lebih dari itu merupakan tali penghubung kedua Korea dan simbol perdamaian di Semenanjung Korea (KBRI Pyongyang).


(WIL)