Lingkungan Bebas, Polisi Sulit Selisik Agus dan Geng Boel Tacos

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 10 Oct 2015 19:45 WIB
mayat bocah dalam kardus
Lingkungan Bebas, Polisi Sulit Selisik Agus dan Geng Boel Tacos
Petugas kepolisian mengamankan tersangka Agus Dermawan seusai rilis pengungkapan kasus pembunuhan dan pencabulan anak di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (10/10). MI/ARYA MANGGALA

Metrotvnews.com, Jakarta: Polda Metro Jaya mengaku mengalami kesulitan dalam menyelidiki pencabulan dan pembunuhan terhadap PNF, 9, yang dilakukan Agus Dermawan, 39. Pasalnya, warga sekitar menganggap Agus sosok yang baik hingga dia bisa membentuk Geng Boel Tacos seperti diceritakan dalam buku yang ditemukan polisi.

"Ada buku yang didapatkan dari salah satu anak-anak, menggambarkan tentang kelompok 'Boel Tacos', mereka diajak ngeganja, nyabu," kata Direksrimum Polda Metro Jaya Kombes Krisna Murti di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (10/10/2015).

Dari penemuan tersebut, lanjut dia, menunjukan bagaimana orang tua di lingkungan tersebut amat membebaskan anak-anaknya bermain. Mereka diperbolehkan bergaul hingga menginap di bedeng milik residivis kasus narkoba tersebut.

"Semua umurnya di bawah 14 tahun. Ini menunjukkan pelakunya sangat luar biasa dan begitu permisifnya orang tua membiarkan anaknya bergaul dengan tersangka (Agus)," ungkap Krishna.

Menurut dia, faktor kedekatan ini membuat penyidik agak kesulitan saat mengulik profil Agus. Penyidik, kata Krishna, membutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa mendapatkan keterangan terkait sosok Agus.

"Anak-anak ini, mereka tidak akan berbicara pada orang yang tidak bisa dipercaya. Sebagian saksi bersifat tertutup, pemeriksaan DNA juga membutuhkan waktu, sikap orang tua di lokasi tempat tinggal juga jadi kendala. Penyidik sempat menelusur jejak yang salah," beber dia.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya akhirnya berhasil mengungkap pelaku pembunuh PNF yang jasadnya ditemukan di dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu, 3 Oktober 2015 lalu. Polda menetapkan Agus Dermawan sebagai tersangka dengan sedikitnya lima alat bukti.

Atas tindakannya, Agus dijerat dengan Pasal 340 atau 338 KUHP Jo. Pasal 81 Ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dia terancam hukuman pidana maksimal penjara seumur hidup.


(OGI)