Kasus Kebakaran Hutan

Zero Burning Harus Berlaku ke Semua Pihak

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 12 Oct 2015 11:35 WIB
kebakaran hutan
<i>Zero Burning</i> Harus Berlaku ke Semua Pihak
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Peneliti Paradigma Riset Institut HR Prasetyo Sunaryo mengimbau pemerintah untuk memanfaatkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lapan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.

Menurut dia, zero burning harus menjadi kesadaran semua pihak. "Harusnya zero burning itu berlaku untuk semua pihak," ungkapnya, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (12/10/2015).

Dia menambahkan, antisipasi lebih dini sangat dibutuhkan karena di sejumlah tempat, kasus-kasus pembakaran hutan sangat kompleks pelakunya. Bisa dari unsur perusahaan, tapi jangan tutup mata juga bahwa sebagian warga juga melakukan hal yang sama. "Di beberapa tempat sudah jadi tradisi," jelas dia.

Dia mencontohkan, dari berbagai kasus yang sudah terungkap di media massa, motif pembakaran lahan amat beragam. Mulai dari sekadar membersihkan areal kebun hingga merembet ke lahan lain seperti kasus kebakaran di Taman Nasional Lore Lindu, Palu. Bahkan, ada faktor kesengajaan karena mau menanam lada seperti terjadi Bangka Belitung.

"Warga memang membakar lahan dalam skala kecil-kecil. Tapi kalau didiamkan ya jadi banyak juga. Ketika merembet terbawa angin, akan merembet ke lahan milik warga lainnya atau juga korporasi skalanya mendadak jadi amat signifikan. Harusnya zero burning itu berlaku untuk semua pihak," tegasnya.

Oleh karena itu, pemerintah diminta menggunakan data dari BKMG dan Lapan karena kedua lembaga ini dipastikan secara rutin mengeluarkan peringatan dini. "Khawatirnya, aparat terkait menganggapnya peringatan itu hanya kebakaran biasa. Jadi, dibiarkan saja," ujar dia.

Dia menjelaskan, dari data citra satelit Lapan yang bisa diakses publik, contohnya, menunjukkan banyaknya titik api di Sumatera sejak Juli lalu. Sementara data BMKG secara harian bisa menunjukkan titik panas dan lokasi terbaru berdasarkan titik kordinat dan wilayah administrasi hingga tingkat kecamatan.

Sekadar informasi, dari pantauan di situs BMKG, untuk data 9 Oktober lalu, misalnya, titik panas baru banyak terdeteksi di kawasan timur Indonesia. Di Sumatera Selatan ada dua titik panas baru yang terdeteksi di Ulumusi, Empat Lawang, Sumsel.



(ABD)