Kesejahteraan Petani Sulut Alami Penurunan

   •    Rabu, 14 Oct 2015 17:30 WIB
petani
Kesejahteraan Petani Sulut Alami Penurunan
llustrasi. MI/PANCA SYURKANI

Metrotvnews.com, Manado: Tingkat kesejahteraan peternak di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mengalami penurunan, tercermin dari nilai tukar petani (NTP) subsektor peternakan  September 2015 turun 0,13 persen ke angka indeks 101,14.

"NTP subsektor peternakan di Sulut pada September 2015 sebesar 101,14 persen atau turun sebesar 0,13 persen jika dibandingkan dengan Agustus 2015," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut Faizal Anwar di Manado, Rabu (14/10/2015).

Faizal mengatakan penurunan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani hanya mengalami peningkatan 0,76 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani 0,86 persen.

"Kesejahteraan meningkat karena indeks yang dibayar petani lebih besar dari yang diterima," jelasnya.

Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh menurunnya indeks komoditas pembentuk dari beberapa kelompok ternak yakni ayam buras 0,31 persen dan telur ayam ras 0,18 persen.

Dia menjelaskan kendati terjadi penurunan angka NTP namun masih di atas angka 100 persen, berarti peternak di Sulut masih lebih sejahtera jika dibandingkan dengan sektor lainnya.

Secara keseluruhan, pada bulan September 2015 nilai tukar petani (NTP) di Sulut sebesar 95,89 persen atau meningkat 0,82 persen jika dibandingkan dengan NTP Agustus 2015 hanya 95,11 persen.

Faizal mengatakan peningkatan NTP ini disebabkan peningkatan indeks harga yang diterima petani lebih besar dibandingkan dengan peninglatan indeks harga yang dibayar petani Sulut.

Indeks yang diterima petani pada September 2015 sebesar 1,72 persen dan indeks yang dibayar petani sebesar 0,90 persen. Dia menjelaskan untuk NTP tahun kalender menurun sebesar 1,51 persen dan year on year 3,98 persen.

Dia menjelaskan indeks harga yang diterima petani berasal dari seluruh harga-harga yang didapatkan petani dari hasil penjualan seluruh komoditi pertanian yang diusahakan, di mana pertumbuhan tertinggi terjadi pada subsektor tanaman pangan sebesar 2,32 persen.


(SAW)