KPK Temukan Narkoba saat Cokok Dewie Yasin Limpo Cs

Yogi Bayu Aji    •    Kamis, 22 Oct 2015 12:23 WIB
suap pltu di papua
KPK Temukan Narkoba saat Cokok Dewie Yasin Limpo Cs
Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi Partai Hanura Dewie Yasin Limpo dikawal petugas ketika resmi ditahan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/10) dini hari.--Foto: MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi menemukan narkoba saat mencokok anggota Komisi VII Fraksi Hanura Dewie Yasin Limpo dan beberapa orang lainnya. Barang haram itu ditemukan di tas pengusaha bernama Harry.

"Ada temuan narkoba di tas saat OTT (Operasi Tangkap Tangan)," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati dalam pesan singkat, Kamis (22/10/2015).

Harry sempat menjalani pemeriksaan di Kantor KPK. Saat Dewie dan empat orang lainnya jadi tersangka, Harry lolos dari KPK. Atas temuan narkoba ini, lembaga antikorupsi memutuskan melimpahkan Harry ke Polda Metro Jaya.

"Harry, dini hari hampir bersamaan dengan tahanan lainnya turun untuk penahanan, sudah diserahterimakan ke Polda Metro Jaya," jelas dia.

Selasa 20 Oktober 2015, anggota Komisi VII DPR Fraksi Hanura Dewie Yasin Limpo ditangkap KPK. Adik Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo ini dicokok bersama beberapa orang lainnya.

Pertama, sekitar pukul 17.45 WIB penyelidik dan penyidik menangkap tangan sejumlah orang di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Mereka adalah sekretaris pribadi Dewie, Rinelda Bandaso; Pengusaha Setiadi; Pengusaha Harry; Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Deiyai, Papua, Iranius; ajudan Setiadi, Devianto dan seorang sopir mobil rental.

Di sana telah terjadi serah terima uang dari Setiadi dan Harry kepada Rinelda Bandaso. Dalam penangkapan ini, petugas KPK menemukan uang dalam bentuk dolar Singapura sekitar SGD177.700 di dalam snack makanan ringan.

Kemudian, pukul 19.00 WIB, KPK menangkap tangan Dewie Yasin Limpo dan staf ahlinya Bambang Wahyu Hadi di Bandara Soekarna-Hatta, Tangerang, Banten. Mereka semua kemudian digelandang ke kantor lembaga antikorupsi.

Setelah menjalani pemeriksaan intensif di KPK, akhirnya KPK menetapkan tersangka terhadap Iranius, Setiadi, Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, dan Bambang Wahyu Hadi. Iranius dan Setiadi diduga sebagai pemberi suap melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Sementara, Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso, dan Bambang Wahyu Hadi diduga sebagai penerima suap. Mereka diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Dari pemeriksaan, uang suap diduga diberikan  terkait proyek pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Deiyai, Papua, tahun anggaran 2016. Proyek ini masih dibahas dalam Rancangan Anggaran Pendapatan & Belanja Negara (RAPBN) 2016.


(MBM)