Takut Menghambat, Anakbuah tak Minta Rincian Pertanggungjawaban DOM ke Jero Wacik

Renatha Swasty    •    Jumat, 23 Oct 2015 01:25 WIB
Takut Menghambat, Anakbuah tak Minta Rincian Pertanggungjawaban DOM ke Jero Wacik
Jero Wacik saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor - MI/Rommy Pujianto

Metrotvnews.com, Jakarta: Budiarto, Pejabat Pembuat Komiten di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2011 mengaku tak pernah meminta rincian pertanggungjawaban penggunaan Dana Operasional Menteri (DOM) oleh Jero Wacik. Budiarto takut dianggap menghambat sehingga hanya bisa diam.

Ia mengaku, saat baru diangkat menjadi PPK kerap meminta data rinci soal penggunaan DOM. Tapi, Ia ditegur oleh Kasubag TU Menteri Luh Ayu Rusminingsih.

"Tapi jawaban dari lantai 16 bu Luh, saya enggak enak disangka menghambat, 'dari dulu emang begini pak Budi', jadi saya nggak enak karena pimpinan pak Menteri, 'udah aman nggak apa-apa', yaudah lah ternyata aman enggak ada masalah," beber Budiarto saat bersaksi buat terdakwa Jero Wacik di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (22/1/2015).

Budiarto mengaku, pihaknya mengeluarkan dana DOM hingga Rp3.6 miliar per tahun. Dana itu digunakan untuk keperluan dinas Jero sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Tiap bulan, pihaknya bakal mendapatkan laporan pertanggungjawaban oleh pihak Menteri. Tapi, laporan tak pernah rinci.

"Ada kuitansi aja ditanda tangan pak Jero," ujar Budi.

Budiarto sempat takut lantaran sesuai aturan dana DOM yang dipakai harus dilaporkan pertanggungjawabannya secara rinci. Pertanggungjawaban seharusnya tak hanya kuitansi, tetapi dokumen pendukung.

"Agak resah juga penggunaan uang sekian banyak pertanggungjawaban kurang. Tapi jawaban bu Luh, Sesmen 'Pak Budi dari dulu gitu'," ujar Budi.

Dalam dakwaan, pada tahun anggaran 2011, alokasi DOM untuk Jero sejumlah Rp3,6 miliar. DOM yang dicairkan sesuai kwitansi yang ditandatangani Jero sejumlah Rp1.880.062.500.

Dana DOM itu kemudian digunakan untuk keperluan pribadi keluarga sejumlah Rp65.320.513. Luh Ayu dan Siti Alfiah kemudian membuat laporan yang tidak sebenarnya yaitu untuk pembelian bunga sejumlah Rp39.102.800 dan pembayaran telepon dan lain-lain Rp26.217.713.
(AZF)