Dewi Yull Dukung Bisindo Disahkan sebagai Bahasa Tunarungu Indonesia

Anindya Legia Putri    •    Selasa, 27 Oct 2015 17:07 WIB
dewi yull
Dewi Yull Dukung Bisindo Disahkan sebagai Bahasa Tunarungu Indonesia
Dewi Yull (Foto:MI/CR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dewi Yull termasuk salah satu orang yang vokal mendukung Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) disahkan pemerintah sebagai sebagai bahasa resmi para tunarungu di Indonesia.

Dewi menyayangkan pemerintah kurang peka terhadap kebutuhan kaum tunarungu akan bahasa yang mudah dipahami.

"Problemnya sekarang, pemerintah belum memastikan bahasa ibu bagi kaum tuna rungu. Yang mereka butuhkan itu Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia). Tapi pemerintah punya SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) yang notabene dibikin oleh ahli bahasa yang mendengar. Sementara, tuna rungu sudah terbiasa dengan Bisindo yang sudah ada sejak dulu. Sangat berbeda," kata Dewi  saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2015).

Bisindo merupakan bahasa isyarat yang diciptakan oleh para penyandang tunarungu. Berbeda dengan SIBI. Meski sama-sama bahasa isyarat, SIBI diciptakan oleh orang normal untuk berkomunikasi dengan penyandang tunarungu.

Ini berarti  bahasa isyarat yang benar-benar dimengerti adalah bahasa yang merupakan ciptaan penyandang tunarungu, bukan buatan orang normal.

Dijelaskan Dewi, SIBI memiliki bahasa internasional. Sementara, bahasa isyarat internasional berbeda-beda. Ada Amerika, Inggris, dan lainnya.

Padahal, anak-anak tunarungu butuh bahasa yang paling mudah mereka mengerti. Tidak perlu pakai awalan dan akhiran. Contoh, saya/mencuci/piring. Sedangkan, SIBI menggunakan susunan kata, saya/mau/mencuci/piring.

"Kenapa harus pakai kata 'mau.' Itu hal-hal yang belum dipahami oleh pemerintah. Ada dua kubu yang tidak akan pernah bersatu karena tidak melibatkan kaum tuna rungu sewaktu membuat bahasa untuk mereka. Itu problem besar. Itu perjuangan saya sekarang. Bagaimana pemerintah mau memutuskan Bisindo menjadi bahasa kaum tuna rungu. Karena itu paling dipahami oleh mereka," jelas penyanyi senior ini.

Sejauh ini, undang-undang baru sampai tahap rancangan. "Sudah dari 2011 dibikin, tapi implementasi belum jalan. Masih berjuang supaya diketuk," ujarnya.


(ROS)