Penggunaan Pukat Harimau Meresahkan Nelayan NTT

Tri Kurniawan    •    Senin, 02 Nov 2015 07:36 WIB
nelayan ilegal
Penggunaan Pukat Harimau Meresahkan Nelayan NTT
Nelayan melintasi bagan apung atau jaring angkat di pesisir pantai Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang, NTT. Foto: MI/Palce Amalo

Metrotvnews.com, Kupang: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur akan menangkap nelayan tidak memiliki izin dari luar daerah tersebut. Penindakan melibatkan anggota TNI Angkatan Laut.

"Apalagi nelayan-nelayan dari luar yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan," katanya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTT Abraham Maulaka di Kupang, Senin.

Nelayan di NTT mengeluh semakin banyak kapal dari luar NTT menangkap ikan menggunakan pukat harimau atau cantrang. Beberapa waktu lalu, dua kapal asal Jawa Timur ditangkap di perairan Laut Sawu karena menggunakan pukat harimau.

"Saya sudah bertemu dan berbicara dengan pihak keamanan laut, untuk memantau wilayah perairan. Selama ini nelayan kami yang menghalau nelayan pengguna pukat harimau," ujar dia.

Abraham khawatir aksi nelayan mengusir pengguna pukat harimau mencelakai nelayan sendiri. Minimnya peralatan jadi kendala aparat mengawasi perairan di Provinsi NTT.

Saat ini, Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VII hanya memiliki dua. Sedangkan polisi perairan Polda NTT hanya memiliki empat buah kapal patroli.

Anggota DPRD NTT Gabriel Suku Kotan mengatakan Lantamal VII Kupang dan polisi kekurangan fasilitas dan armada untuk patroli.

Bagaimana mungkin petugas keamanan laut kita bisa bekerja secara maksimal jika fasilitas yang dimiliki sangat minim," ujar Gabriel. (Antara)


(TRK)