Hadapi Musim Penghujan, 32 Pompa Air di Jaksel Siap Beroperasi

Nelly Marlianti    •    Kamis, 05 Nov 2015 08:42 WIB
banjir jakarta
Hadapi Musim Penghujan, 32 Pompa Air di Jaksel Siap Beroperasi
Ilustrasi--PERBAIKAN RUMAH POMPA: Pekerja memberbaiki pompa air di Waduk Melati, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (4/11). Perbaikan tersebut sebagai antisipasi untuk menghadapi musim hujan--ANTARA/Rivan Awal Lingga

Metrotvnews.com, Jakarta: Wali Kota Jakarta Selatan dan Sudin Tata Air Jakarta Selatan mengecek beberapa pompa air di wilayah Jakarta Selatan. Pengecekan ini dilakukan guna mengantisipasi banjir saat musim hujan tiba.

"Jadi memang sengaja saya mengajak Pekerjaan Umum (PU) Air, untuk mengecek pompa dan saluran air. Semua kita cek dan antisipasi, jadi pas air datang pompanya tidak macet sehingga tidak sampai banjir," kata Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi, Rabu (4/11/2015).

Selain melakukan pengecekan air, pihaknya juga melakukan pengerukan dan perbaikan jalan yang ada di wilayah Jakarta Selatan. Tri juga telah menginstruksikan semua gedung bertingkat dan kantor pemerintahan di wilayah Jakarta Selatan memasang sumur biopori untuk mengantisipasi banjir.

"Jadi kalau soal jalan itu semua sudah di layer jalan yang ada. Sudah tidak ada lagi jalan yang rusak semua sudah bagus. Sumur biopori sudah kami instruksikan sesuai dengan aturan yang ada. Kalau memang gedung bertingkat masih membandel nanti akan ditindak oleh penataan kota," jelasnya.

Sementara, Kasudin Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Selatan, Dedi menyatakan, dari 32 pompa air yang ada di wilayah selatan dalam keadaan baik dan siap untuk dioperasikan. Bahkan, Tri telah menyiapkan lima unit mobil pompa yang masing-masing terdapat dua pompa untuk melakukan penyedotan air bila pompa utama tidak bisa maksimal.

"Kami akan siagakan pompa-pompa itu di titik-titik rawan genangan, bahkan kami akan tambah lima lagi untuk setiap kecamatan tahun depan," ungkapnya.

Pemantauan di lapangan, lima lokasi pompa air di kawasan Pulo Raya, Pondok Raya, Jalan Bakti, Kemang Selatan, Kebon Baru dan Pangadengan. Masih banyak terdapat sampah dan lumpur yang belum terangkut di aliran kali di dekat pompa tersebut seperti Kali Mampang, Kali Krukut, Kali Ciliwung. Sementara debit air dalam keadaan surut karena musim kemarau.

"Sampah-sampah dan lumpur ini akan kami keruk esok hari. Saya pastikan sebelum musim hujan semua sudah dikeruk. Kecuali yang Sungai Ciliwung karena itu kewenangan Kementrian," jelasnya.

Untuk kondisi pompa air di Pulo Raya memiliki kapasitas 1.500 meter per-detik. Sementara, pompa di rumah pompa Canadiyanti berkapasitas 500 meter per-detik, ada dua pompa dengan ukuran yang sama terpasang di rumah pompa ini. Untuk, wilayah pompa di kawasan Kemang Selatan berkapasitas 1.000 meter per-detik. Kebon Baru berkapasitas 1.000 meter per-detik, 750 meter per-detik, dan 250 meter per-detik.

"Mesin pompa ini mengunakan sistem silent operations, sehingga ketika dioperasikan tidak akan menghasilkan suara yang dapat mengganggu masyarakat. Genset juga sudah disiagakan, jadi apabila banjir dan listrik mati bukan halangan untuk pompa air tidak bisa bekerja," tambahnya.

Mengenai cara kerja pompa-pompa ini, lanjut Dedi, semuanya memiliki sistem alarm otomatis yang akan berbunyi bila air sudah dalam ketinggian batas elevator yang ditetapkan di setiap pompa. Sehingga, apabila air sudah masuk kategori rawan, alarm akan berbunyi. Kemudian, pihaknya akan mulai melakukan penyedotan air kemudian membuangnya ke aliran kali yang dilalui pompa tersebut.

"Jadi kalau pompanya bunyi 'nguing' itu tandanya air penuh. Air kemudian langsung disedot dan disemburkan. Lihat sendirikan, tadi dorongan semburannya kuat. Artinya pompa sudah siap untuk hadapi banjir," paparnya.

Dedi pun yakin dengan kesiapan pompa, dan saluran air yang maksimal ini. Akan mengurangi dampak banjir di wilayah-wilayah rawan banjir seperti kawasan Pulo Raya, Pondok Raya, Kebon Baru, Kemang Selatan, Pengadegan, dapat berkurang 60-70 persen. Sebelumnya, dikawasan tersebut menjadi langanan banjir apalagi di momen banjir lima tahunan dapat mencapai 3-5 meter.

"Dengan persiapan dan antisipasi maksimal kami yakin bisa mengurangi banjir 60-70 persen. Kalau masih banjir juga itu bisa dikatakan di luar prediksi. Tapi kami masih berharap tidak banjir," tutur dia.

Dari data yang didapat Metrotvnews.com, DKI memiliki total 409 pompa yang tersebar di lima wilayah plus dua kanal banjir. Tercatat, setidaknya ada 61 pompa yang rusak. Jakarta Selatan menjadi wilayah yang memiliki jumlah pompa rusak paling banyak dengan 18 pompa.

Jenis kerusakan pompa pun bisa beragam. Seperti rusaknya selang solar genset, rusak akibat umur dan jam kerja pompa, overhaul, maupun panel pompa tidak lagi berfungsi.

Berikut data pompa DKI Jakarta yang tersebar di lima wilayah:

Jakarta Timur, total pompa 40 (kondisi baik 28, rusak 12).

Jakarta Utara, total pompa 22 (kondisi baik 20, rusak 2).

Jakarta Selatan, total pompa 89 (kondisi baik 71, rusak 18).

Jakarta Pusat, total pompa 58 (kondisi baik 53, rusak 5).

Jakarta Barat, total pompa 100 (kondisi baik 92, rusak 8).

Banjir Kanal Barat, total pompa 64 (kondisi baik 49, rusak 15).

Banjir Kanal Timur, total pompa 36 (kondisi baik 35, rusak 1).

Total pompa di Jakarta 409, rusak: 61, baik 349.


(YDH)