Tertinggi, BPS Catat Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 6,56%

Gervin Nathaniel Purba    •    Kamis, 05 Nov 2015 15:08 WIB
pertumbuhan ekonomi
Tertinggi, BPS Catat Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 6,56%
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat pertumbuhan beberapa komponen pengeluaran konsumsi tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2015.

Deputi Neraca dan Analisis Statistik BPS Kecuk Suharyanto mengatakan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (P-KP) sebesar 6,56 persen. Kemudian diikuti oleh pertumbuhan komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 6,39 persen, komponen pengeluaran rumah tangga (PK-RT) sebesar 4,96 persen dan komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 4,62 persen.

"Sedangkan komponen lainnya mengalami pertumbuhan negatif," ujar Kecuk Suharyanto dalam paparannya di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2015).

Dia menambahkan, struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran pada triwulan III-2015 tidak menunjukkan perubahan berarti. Aktivitas permintaan terhadap barang dan jasa masih didominasi oleh komponen PK-RT yang mencapai 54,98 persen dari PDB Indonesia atas dasar harga berlaku.

Kemudian komponen lain yang berkontribusi besar berturut-turut adalah komponen PMTB sebesar 32,39 persen, ekspor barang dan jasa sebesar 20,71 persen, dan P-KP sebesar 9,82 persen. Sedangkan kontribusi komponen PK-LNPRT dan perubahan inventori relatif kecil, masing-masing 1,12 persen dan 1,79 persen.

"Di sisi lain, komponen impor barang dan jasa (sebagai faktor pengurangan di dalam struktur PDB) berkontribusi sekitar 19,90 persen)," jelasnya.

Berdasarkan besarnya kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB), sumber pertumbuhan (source of growth) tertinggi pada triwulan III-2015 (yoy) bersumber dari komponen PK-RT sebesar 2,67 persen, kemudian diikuti komponen PMTB (1,47 persen). Sedangkan komponen lainnya hanya sebesar 0,95 persen.


(AHL)