Tingkatkan Produk UKM, Anggaran Promosi Capai Rp850 Miliar

Husen Miftahudin    •    Kamis, 05 Nov 2015 17:02 WIB
ukm
Tingkatkan Produk UKM, Anggaran Promosi Capai Rp850 Miliar
Menteri Perdagangan Thomas Lembong (kanan) (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Trikasih Lembong mengakui produk Usaha Kecil Menengah (UKM) lemah pada promosi dan kemasan. Padahal, dari sisi kualitas dan konsistensi mutu, produk UKM Indonesia justru diakui mampu merajai pasar perdagangan global.

Maka itu, pihaknya akan terus mengupayakan untuk memperbaiki promosi dan kemasan produk UKM. Hal itu akan dibuktikan melalui anggaran promosi oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 yang mengalami kenaikan tiga kali lipat dibandingkan anggaran tahun sebelumnya.

"Sebelumnya (anggaran promosi Kemendag) Rp220 miliar per tahun. Di APBN 2016 naik jadi Rp850 miliar per tahun. Jadi memang kita harus gencar di promosi," ujar Tom, usai menghadiri acara Pameran Pangan Nusa-Pameran Produk Dalam Negeri 2015, di Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Kamis (5/11/2015).

Ia mengungkapkan, langkah konkret yang akan dilakukan Kemendag untuk mendorong produk UKM merajai pasar perdagangan global adalah dengan menggunakan teknologi digital. Sosial media (sosmed) dinilai ampuh untuk promosi produk UKM Indonesia.

"Ini kan sudah abad 21, jadi mungkin kita harus coba berinovasi melalui sosmed atau cara-cara promosi yang ramah sosmed. Karena kayaknya zaman sekarang itu produk-produk akan laku kalau dipasarkan di dunia viral, apalagi buat generasi muda. Cara-cara lama sudah tak begitu relevan," papar dia.

Jika menilik kemasan produk dari usaha kecil milik negara-negara di ASEAN, aku Tom, memang produk UKM Indonesia tertinggal cukup jauh. Hal ini mengingat kemasan merupakan aspek yang utama dari produk yang dilihat oleh para konsumen.

Maka itu, pihaknya akan melakukan siasat dengan meniru terlebih dahulu kemasan produk dari usaha kecil negara-negara saingan seperti Korea, Jepang, Singapura, dan Hong Kong. Setelah meniru kemasan, barulah kemudian kemasan produk UKM Indonesia memodifikasi dengan melihat tren perkembangan kemasan produk global.

"Mungkin kita di awal tiru saja dulu, terus terang saja supaya kita bisa tandingi. Setelah kita tandingi, baru kita cari modifikasi dengan memvariasi terhadap produk yang laku di luar. Era globalisasi kita harus belajar dan rajin mengamati tren di dunia," pungkas Tom.


(ABD)