Pilkada Blitar

Tak Diberi Ruang Bersaksi, Penggugat Pesimistis Menang

Muhammad Khoirur Rosyid    •    Jumat, 06 Nov 2015 23:47 WIB
pilkada serentak
Tak Diberi Ruang Bersaksi, Penggugat Pesimistis Menang
Sutrisno Handoyo Putro menunjukkan ijazah yang diduga palsu milik calon wali kota Blitar. Foto: Metrotvnews.com/Rosyid

Metrotvnews.com, Surabaya: Penggugat pilkada Kota Blitar, Jawa Timur, pesimistis menang dalam gugatan yang disidangkan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) di Polda Jatim, Jumat, 6 November. Sebab, saksi dari penggugat tak diberikan waktu bersaksi oleh majelis hakim.

Majelis hakim yang diketuai Valina Singka Subekti tak memberikan waktu saksi Harnomo Eko selaku Ketua Kelompok Belajar Taman Siswa memberikan keterangan. "Saksi kami tidak diberikan kesempatan bersaksi. Jadi, kecil kemungkinan kami akan menang," kata Sutrisno Handoyo Putro selaku penggugat dari LSM Ampera, Kota Blitar, di Surabaya.

Menurut Handoyo, Harnomo adalah saksi kuat untuk memberikan keterangan terkait proses belajar calon walikota Blitar Muh Samanhudi Anwar di Kelompok Belajar Taman Siswa saat mengikuti program penyetaraan ijazah Paket C. Harnomo adalah Kepala Kelompok Belajar Taman Siswa saat itu.

"Pak Harnomo sangat tahu prosesnya. Dia orang yang pertama kali mendirikan kelompok belajar Paket C. Rapor dan nomor induknya juga ada," jelasnya.

Sementara itu, Komisioner KPU Jatim Arbayanto yang juga mewakili KPU Jatim, saat dikonfirmasi, mengatakan terkait hak saksi memberikan keterangan di persidangan adalah wewenang majelis hakim. "Itu wewenang hakim. Tapi, kalau menurut saya majelis hakim memiliki pertimbangan fakta di persidangan sudah cukup. Sehingga tak lagi dibutuhkan keterangan saksi," ujarnya.

Sidang DKPP ini sendiri, kata Arbayanto, hanya dilakukan sekali. Keputusan selanjutnya akan diambil di pleno internal DKPP. Hasilnya akan disampaikan setelah pleno selesai digelar.

Calon wali kota petahana Kota Blitar Muh Samanhudi Anwar yang berpasangan dengan Sumardiyanto dilaporkan LSM Ampera atas tuduhan ijazah palsu. Samanhudi yang dulunya mengikuti program Paket C setara SMA di Kelompok Belajar Taman Siswa dituding menggunakan ijazah palsu.


(UWA)