Penembokan Rumah Denny, Warga Komplek Bukit Mas Terpecah Dua

Wanda Indana    •    Senin, 09 Nov 2015 17:39 WIB
rumah
Penembokan Rumah Denny, Warga Komplek Bukit Mas Terpecah Dua
Rumah Denny yang ditembok warga. (Foto:MTVN/Arga Sumantri)

Metrotvnews.com, Jakarta: Warga Perumahan Bukit Mas, Bintaro, Jakarta Selatan, terbelah menjadi dua kubu. Ada warga yang mendukung pembongkaran tembok di rumah Denny Akung, ada pula yang tidak setuju.

"Iya, memang seperti itu. Ada juga sebagian warga yang tidak mau ikut campur," kata Ketua Rukun Warga (RW) 15 Perumahan Bukit Mas, Bintaro, Jakarta Selatan, Lutfi, kepada Metrotvnews.com, Senin (9/11/2015).

Dijelaskan Lutfi, kelompok warga yang tidak mendukung pembongkaran tembok di depan rumah Denny adalah warga yang mengatasnamakan Warga Peduli Perumahan Bukit Mas (WPPBM). Alasannya, mereka tidak terima rumah Denny masuk ke dalam bagian kompleks.

"Sementara yang mendukung pembongkaran tembok lantaran merasa kasihan dengan Pak Denny, penghuni rumah," tambah dia.

Lutfi mengatakan, pihaknya belum mendapatkan perintah dari Pemrintah Kota Jakarta Selatan untuk membongkar tembok di depan rumah Denny. "Untuk pembongkaran belum ada perintah, saya tidak tahu," ungkap Lutfi.

Pantauan Metrotvnews.com, tembok di depan rumah Denny tampak diplester beberapa pekerja bangunan. "Kita plester biar permanen. Supaya memberi kesan tembok ini benar-benar batas kompleks kita," kata Rena, Koordinator WPPBM.

‎Sekelompok warga yang mengatasnamakan warga Bukit Mas menembok milik Denny. Rumah Rp2,6 miliar itu ditutup tembok dengan batako setinggi 2 meter dan lebar 5 meter pada Minggu, 1 November.

warga membantah menembok rumah Denny Akung sebagai tindakan main hakim sendiri. Warga mengklaim apa yang mereka lakukan disaksikan oleh unsur pemerintahan, bahkan kepolisian.

Hal itu dibenarkan Lurah Bintaro Sri Emi Fariza. Sri menyebut pihak kepolisian mengetahui penembokan rumah Denny Akung oleh warga. Penembokan rumah oleh warga di depan rumah Denny bukan yang pertama kali. Mereka juga pernah membangun tembok di lokasi yang sama saat Idul Adha lalu. Saat rumah itu masih ditempati pemilik lama, Heru.

Hingga saat ini, Denny merasa kepayahan menjalankan aktivitas sehari-hari. Bahkan, dia merasa malu bila pergi ke luar rumah.

"Secara psikologis saya dan istri tertekan, terganggu. Padahal kita warga baru, ingin jadi warga sini. Apa enggak bisa diskusi dulu" kata Denny kepada Metrotvnews.com, Minggu (8/11/2015).

Denny mengaku, dirinya kesulitan berangkat kerja dengan kendaraan pribadinya, lantaran tembok setinggi dua meter masih berdiri kokoh persis di depan rumah. Mobil milik Denny tidak bisa ke luar rumah.

Meski demikian, banyak warga yang menaruh simpati kepada Denny dan keluarga. Kata dia, pascapenembokan pagar di rumahnya, rumah Denny banyak dikunjungi warga.

"Terutama ibu-ibu pengajian dan sesepuh-sesepuh di sini. Saya merasa mendapat dukungan moral, mereka menguatkan saya untuk sabar," ungkap Denny.


(YDH)