Kota Yogya Paling Potensial Diterjang Angin Ribut

Patricia Vicka    •    Selasa, 10 Nov 2015 16:43 WIB
puting beliung
Kota Yogya Paling Potensial Diterjang Angin Ribut
Foto ilustrasi. (MI/Liliek Darmawan)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kota Yogyakarta rawan diterjang angin puting beliung. Tekanan udara yang lebih tinggi dibanding daerah lain di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat Kota Gudeg jadi sasaran empuk angin ribut.

Pakar cuaca dan iklim Universitas Gajah Mada Emiliya Nurjani mengatakan, dalam musim pacaroba ini rawan terjadi bencana angin kencang, angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor.

Ia menjelaskan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman adalah wilayah paling potensial terjadi angin kencang dan puting beliung.

"Angin kencang dan puting beliung berpotensi besar di Kota Yogyakarta karena memiliki suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya," ujar dosen Fakultas Geografi UGM di Yogyakarta, Selasa (10/11/2015).

Hal ini menyebabkan Kota Yogyakarta menjadi pusat tekanan yang menghisap masa udara dari arah sekitarnya. "Angin itu selalu menuju ke daerah yang memiliki suhu lebih panas. Sehingga kemungkinan munculnya puting beliung di Kota Yogyakarta cukup besar," tegasnya.

Selain itu, menurutnya, wilayah yang banyak dilakukan pembangunan juga memiliki tingkat kerawanan tinggi terjadinya angin kencang. "Di daerah pembangunan, banyak bahan material yang mudah menyimpan panas," kata dia.

Sementara, Kabupaten Sleman rawan kena puting beliung dan angin kencang, karena lahan alamiah sudah banyak berkurang untuk perumahan. Wilayah yang sedikit memiliki tutupan lahan alami, kata dia, rawan timbul angin kencang.

Ia menjelaskan, terbentuknya angin puting beliung dipengaruhi oleh tingkat perbedaan suhu udara yang ekstrem. Biasanya, terjadi karena perubahan suhu secara drastis. Yakni, pada suhu udara yang tinggi, tiba-tiba suhunya dingin.

"Tanda-tandanya biasanya setelah beberapa hari sebelumnya udara di malam dan siang hari panas namun kelembaban udara tinggi," tutur wanita berjilbab ini.

Gejala itu diikuti dengan terlihat awan cumolonimbus. Awan yang berbentuk seperti bunga kol abu-abu ini terbentuk dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.

Ia mengimbau masyarakat untuk menambah tanaman pohon di tanah kosong untuk meminimalisir terjangan angin kencang.

"Tanamlah pohon. Tidak perlu besar-besar yang penting berdaun banyak. Pohon ini bisa mengurangi jumlah radiasi sinar matahari sehingga suhu di bumi lebih rendah. Jadi bisa mengurangi panas yang dilepaskan di atmosfer," pungkasnya.


(SAN)