Pimpinan Negara Asing Ramai ke Indonesia, Ada Apa?

Dheri Agriesta    •    Kamis, 12 Nov 2015 00:17 WIB
kunjungan kenegaraan
Pimpinan Negara Asing Ramai ke Indonesia, Ada Apa?
Presiden Joko Widodo dan Presiden Republik Finlandia Sauli Vainamo Niinisto memeriksa pasukan kehormatan pada Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11). MI/RAMDANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Istana Presiden sibuk menggelar seremonial kedatangan pimpinan negara lain dalam beberapa bulan terakhir. Pimpinan negara dari daratan Eropa dan Asia silih berganti mendatangi Indonesia.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi mengatakan, kedatangan pimpinan negara itu atas keinginan mereka sendiri. Pemerintah Indonesia tak pernah mengundang mereka untuk datang, namun tetap menyambut baik keinginan mereka untuk berkunjung.

Kedatangan pimpinan sebuah negara, kata Retno, menunjukkan ketertarikan untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Indonesia. Retno menganggap kunjungan itu sebagai hal yang biasa, sebab Indonesia memang menarik di mata dunia.

"Kita itu suka lupa bahwa kita itu negara besar, tapi kita baru sadar kalau kita itu negara besar saat ada tamu datang bertubi-tubi. Kan tidak mungkin ada tamu datang tanpa ada maksud tujuan untuk kunjungan," kata Retno di Kementerian Luar Negeri, Jalan Pejambon, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (11/11/2015).

Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim terbanyak. Belum lagi, Indonesia negara plural yang sampai saat ini masih utuh dan bertahan sebagai suatu kesatuan.

Tak hanya itu, dari sisi ekonomi, Indonesia masih bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. Walau angka itu jauh dari target awal yang diinginkan pemerintah tetapi dengan kondisi ekonomi global yang tak stabil seperti sekarang, capaian ini patut diacungi jempol.

Dalam sebuah forum bilateral yang dihadirinya, Retno pernah mendengar pernyataan salah satu perwakilan yang iri dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. "Mereka iri kepada Indonesia dalam situasi seperti saat ini masih bisa tumbuh 5 persen. Dan tentunya 252 juta penduduk Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka," jelas Retno.

Mantan duta besar Belanda ini menambahkan, pemerintah tak boleh silau dengan ketertarikan dunia terhadap Indonesia. Pemerintah, kata dia, harus bisa mendefinisikan kepentingan nasional terhadap dunia.

"Sekarang tinggal kita mendefinisikan kepentingan nasional kita terhadap dunia. Dalam setiap kesempatan, selama ini pembicaraan presiden dengan negara asing ini jelas apa yang kita inginkan, jadi dari kita semua jelas," pungkas dia.

Indonesia cukup disibukkan dengan kedatangan pimpinan negara sahabat, beberapa negara seperti Turki, Papua Nugini, Denmark, Finlandia, dan Italia baru saja berkunjung dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Dalam waktu dekat, Indonesia akan menerima kunjungan Perdana Menteri anyar Australia Malcolm Turnbull.


(OGI)