Ilmuan Temukan Senjata Pemberantas Sampah Plastik

Meilikhah    •    Sabtu, 14 Nov 2015 15:25 WIB
dunia unik
Ilmuan Temukan Senjata Pemberantas Sampah Plastik
Mealworm tengah menyantap styrofoam sebagai sumber makanan. (Mirror)

Metrotvnews.com, AS: Sejumlah Ilmuwan gabungan dari AS dan Tiongkok baru-baru ini menemukan cara yang diklaim lebih efektif untuk mengurangi dampak sampah plastik yang sulit terurai. Yaitu menggunakan ulat.

Ilmuwan ini menemukan larva Tenebrio Molitor, yang juga dikenal sebagai mealworm (larva) kuning. Mereka dianggap dapat mencerna plastik. Bahkan, plastik dengan status sulit terurai seperti styrofoam.

Peneliti menemukan mikroorganisme dalam usus mereka menurunkan plastik menjadi karbon dioksida dan mengubahnya menjadi nutrisi untuk cacing. Penemuan ini merupakan senjata penting dalam perang melawan plastik yang tak sedap dipandang dan menimbulkan risiko kesehatan.

"Temuan kami telah membuka pintu baru untuk memecahkan masalah polusi plastik global," kata Wei-Min Wu, Insinyur Penelitian Senior di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan di Universitas Stanford, melansir Mirror, Sabtu (14/11/2015).

Para peneliti memberi makan 100 mealworm antara 34 dan 39 miligram styrofoam. Ulat-ulat tersebut mengubah sekitar setengah dari styrofoam ke dalam karbon dioksida, karena mereka akan menjadikan styrofoam sebagai sumber makanan.

Dalam waktu 24 jam sebagian besar plastik yang tersisa sebagai fragmen terdegradasi terlihat mirip dengan kotoran kelinci kecil.

Mealworm diberi diet stabil Styrofoam yang sehat seperti mereka yang mengonsumsi diet normal. Wu mengatakan kotoran mealworm tampaknya aman digunakan sebagai media untuk tanaman. Penemuan ini kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bertajuk Environmental Science & Technology.

Salah satu peneliti, Profesor Yang Juni dari Beihang University di Beijing, mengatakan sekitar 400 juta ton sampah plastik tidak bisa terurai setiap tahunnya di seluruh dunia.

Dia menambahkan konsumsi plastik secara global mencapai 271 ton pada 2013, termasuk 20 juta ton di dalamnya berjenis polystyrene. Yang mengatakan bahwa limbah tersebut merupakan ancaman besar terhadap lingkungan karena produk plastik akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk hancur di dalam tanah.


(MEL)