Kisah JK Awasi Proses Perdamaian Aceh dari Tempat Tidur

Dheri Agriesta    •    Sabtu, 14 Nov 2015 20:23 WIB
aceh
Kisah JK Awasi Proses Perdamaian Aceh dari Tempat Tidur
Wapres Jusuf Kalla/MI/M Irfan

Metrotvnews.com, Jakarta: Sepuluh tahun sudah Nangroe Aceh Darussalam sepakat menyelesaikan konflik berkelanjutan. Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi salah satu tokoh yang sukses mendamaikan.

Namun, siapa yang tahu bagaimana cara JK bekerja. Kata dia, tak hanya pikiran yang diserahkan untuk proses perdamaian, tapi juga fisik.

"Saya mengawasi proses perdamaian, negosiasi itu dari tempat tidur," kenang JK di depan petinggi Provinsi Aceh dan tokoh yang terlibat dalam perundingan sepuluh tahun silam di Hotel Hermes, Banda Aceh, Sabtu (14/11/2015).

Proses perundingan antara pemerintah dan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat itu berlangsung di Finlandia. Presiden Finlandia saat itu, Martti Ahtisaari menjadi tokoh yang memediasi perundingan.

Saat itu, pemerintah diwakili sejumlah tokoh seperti Menteri Kehakiman Hamid Awaludin dan Menteri Perekonomian Sofyan Djalil dengan arahan langsung dari JK. Posisi perundingan di Finlandia membuat selisih waktu yang mencolok, sebab JK mengontrol perundingan dari Jakarta.

"Perundingan baru mulai pukul 10.00 waktu Finlandia, itu sama dengan pukul 02.00 dini hari waktu Indonesia. Jadilah saya berkegiatan malam hari," jelas JK.

JK memang meminta perunding yang mewakili pemerintah menghubungi dia kapan pun dibutuhkan. JK bahkan mendengar langsung proses perundingan melalui telepon. Tak jarang JK meminta perwakilan pemerintah mengoreksi ucapan yang telah dilontarkan.

"Kalau ada Hamid salah omong saya sms saja, bilang untuk koreksi itu omongannya," kata JK.

Dalam proses perundingan, JK memercayai ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan. Ia pun mewanti-wanti juru runding yang ia kirim untuk menyebut kata-kata itu.

Kata itu, di antaranya menyerah dan gencatan senjata. Perundingan harus berdasarkan martabat, jadi martabat merupakan kata yang harus ditekankan dalam sebuah perundingan.

"Saya katakan, ini semua harus berdasarkan dignity," kenang JK.

Perdamaian pun akhirnya diraih dua belah pihak setelah perundingan yang alot di negara yang dianggap netral itu. Namun, pekerjaan belum selesai. Pekerjaan paling berat adalah menjaga perdamaian itu.

Satu dekade sudah berlalu sejak penandatanganan MoU yang dikenal sebagai MoU Helsinki itu. Kini, Provinsi Aceh telah membaik seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang dilakukan. Hal ini dapat dilihat dengan presentase kemiskinan yang terus membaik dan presentase pengangguran yang terus menurun.


(OJE)