Konferensi Ulama Islam Internasional Urai Masalah Terorisme

   •    Rabu, 18 Nov 2015 16:34 WIB
konferensi icis
Konferensi Ulama Islam Internasional Urai Masalah Terorisme
K.H Hasyim Muzadi dalam konferensi pers ICIS (Foto: Nabila Gita/MTVN)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebagai respons atas kondisi dunia Islam yang masih dibayang-bayangi radikalisme, terorisme, konflik internal dan krisis multidimensional, Indonesia menggelar Konferensi Ulama Islam Internasional atau International Conference of Islamic Scholar (ICIS).

Bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Kementerian Luar Negeri, konferensi internasional ke-4 ini akan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Acara yang berlangsung pada 23 hingga 25 November 2015 mendatang akan dihadiri oleh 65 negara. Pesertanya bukan hanya negara Islam, tetapi juga negara non-Muslim seperti Spanyol, Belgia dan Nigeria.

"Tak hanya tokoh dari negara Islam yang akan hadir, tapi negara seperti Spanyol, Belgia, Nigeria dan Amerika juga akan menghadiri konferensi ini," ujar Sekjen ICIS, K.H Hasyim Muzadi di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta (18/11/2015).

Dalam acara ini ICIS membawa dua misi yaitu menyampaikan pemikiran moderasi ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Kemudian, ICIS menyampaikan Pancasila sebagai alternatif untuk negara yang plural, tidak sekuler tetapi juga tidak negara agama karena harus bisa mengayomi kepentingan seluruh elemen bangsa.

UIN Maulana Malik Ibrahim sendiri dipilih karena universitas ini memiliki mahasiswa dari 32 negara yang belajar di tempatnya. Kampus itu juga ingin menjadikannya sebagai universitas islam yang dapat dituju masyarakat dunia jika ingin belajar mengenai Islam.

"Pelajaran yang diajarkan di UIN Malang sama seperti visi ICIS yaitu visi keislaman yang damai tanpa senjata," tutur Hasyim Muzadi.

Keprihatinan atas tragedi yang terjadi di Paris juga akan dibahas dalam konferensi ini, acara ini akan mengurai permasalahan terorisme secara terstruktur.

"Konferensi ini adalah konferensi yang empiris dan memberi solusi, bukan hanya sloganis," ungkap Hasyim Muzadi. (Nabila Gita)
 


(FJR)