Permasalahan e-Commerce RI dan Sektor Pendukungnya

Surya Perkasa    •    Sabtu, 21 Nov 2015 16:42 WIB
e-commerce
Permasalahan <i>e-Commerce</i> RI dan Sektor Pendukungnya
Transaksi e-commerce di beberapa negara. (Foto: ilustrasi grafis Media Indonesia)

Metrotvnews.com, Jakarta: E-commerce Indonesia masih berusia di bawah 10 tahun dan terus berusaha mencari jati diri. Walaupun nilai transaksi 2014 sudah menyentuh angka USD12 miliar, bukan berarti e-commerce Indonesia bebas dari masalah.

CEO Blanja.com, Aulia E Marianto, menjelaskan ada lima elemen penting di dalam e-commerce. Lima elemen ini menjadi penting karena saling mempengaruhi satu sama lain. Jika ada permasalahan di salah satu elemen ini, e-commerce di Indonesia akan sulit berkembang. Elemen pertama adalah platform dari e-commerce. Bentuk situs, sistem yang digunakan, metode penggunaan, sistem jual beli dan beragam fitur lain merupakan satu-satunya elemen yang dikendalikan penuh oleh pengusaha e-commerce.

"Tapi platform itu tidak bisa berdiri sendiri," tegas Aulia, saat berbincang dengan Metrotvnews.com, di Jakarta.

Masalah seputar platform ini sendiri masih belum terlalu banyak. Tapi salah yang menjadi penghambat terbesar platform untuk berkembang adalah keterbatasan modal. Berbeda dengan negara lain yang dipenuhi investor IT yang berani, Indonesia mash belum memiliki banyak ventura yang semangat berinvestasi di sektor IT.

"Kebanyakan yang masuk itu angel investor dari luar. Atau platform asing yang berani agresif menembus pasar Indonesia," kata Aulia.

Dua elemen berikutnya yang tidak mungkin dipisahkan adalah penjual dan pembeli. Mati dan hidup e-commerce Indonesia itu bergantung kepada penjual dan pembeli. Baik bisnis e-commerce konsumen-konsumen (consumer-to-consumer) atau jenis bisnis-konsumer (business-to-consumer). Permasalahan utama dari elemen ini adalah pandangan publik yang salah kaprah soal e-commerce. Banyak yang berpikir mencari nafkah dengan berdagang di e-commerce sangat berbeda jauh dengan berdagang secara umum. Padahal, kata Aulia, yang berbeda hanya metode transaksi, online, dan offline.

"Ini berkaitan juga dengan edukasi. Kita berharap pemerintah mengedukasi masyarakat. Bagaimana e-commerce mau berkembang kalau semisalnya internet saja tidak mengerti. Masyarakat itu banyak yang berminat, tapi mereka tidak mengerti. Mulai dari mendaftar sampai mengelola. Nah di sini peran pemerintah daerah sangat penting. Masa kepala daerah tidak mau UKM mereka go nasional? Itu kan membantu mereka juga. Karena kalau bergantung ke pengelola e-commerce juga berat," terang bos perusahaan yang bekerja sama dengan eBay ini.

Bahkan untuk menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), penjual juga harus disiapkan untuk menghadapi kemungkinan e-commerce Indonesia ikut bergabung ke pasar internasional. Mulai dari bahasa, pelayanan hingga ke quality control komoditas yang dijualnya.

Elemen yang tidak kalah pentingnya yakni sistem pembayaran (payment). Saat ini model sistem pembayaran yang tersedia menjadi hambatan tersendiri. Internet Payment Gateaway (sistem pembayaran online) masih belum terintegrasi. Pengusaha e-commerce terpaksa bekerja sama dengan banyak perusahaan IPG. Selain itu, dia mengakui bank juga masih memandang sebelah mata e-commerce beberapa tahun belakangan. Tapi perlahan bank sudah mulai sadar besarnya transaksi disekeliling e-commerce.

"Kalau bicara nilai bisnis e-commerce, yang platform terbuka saja, itu nilai tidak kurang dari USD3 miliar," kata dia.

Terakhir elemen logistik. E-commerce ini juga sangat berkaitan dengan bisnis logistik yang ada, e-commerce akan sulit berkembang di Indonesia. Beberapa kasus e-commerce yang muncul di publik pun terkait dengan logistik yang keteteran.

"Beruntung perusahaan logistik di Indonesia ini sudah mulai berkembang. Salah satu perusahaan logistik besar di Indonesia (JNE) sudah mendapat investasi Rp300 miliar. Mereka banyak terbantu e-commerce. Bahkan sampai 70 persen pengguna jasanya dari e-commerce," pungkasnya.


(AHL)