Yayah: Menyakitkan Dituding Anggota BIN

Al Abrar    •    Senin, 30 Nov 2015 19:48 WIB
pencatut nama presiden
Yayah: Menyakitkan Dituding Anggota BIN
Pakar bahasa di bidang sosiolinguistik Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang.MI/Arya Manggala

Metrotnews.com, Jakarta: Memilih diam selama beberapa hari, Yayah Bachria Mugnisjah Lumintaintang akhirnya bersuara. Pakar tata bahasa yang dimintai pendapat oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) itu manampik disebut agen Badan Intelijen Negara (BIN).

"Aduh Fadli Zon, memprihatinkan. Itu pelecehan namanya. Ini menyakitkan," kata Yayah lewat pesan singkat kepada Metrotvnews.com di Jakarta, Senin (30/11/2015).

Yayah mengatakan, dirinya memang bersinggungan dengan BIN, tapi bukan sebagai telik sandi. Dia mengajar di Sekolah Tinggi Intelijen Negara, juga di beberapa universitas lain di Jakarta.

"Saya juga pernah mengajar di UI. Saya pensiun dari Depdiknas 2009 sebagai ahli peneliti utama atau profesor riset," ujar Yayah.

Menurut Yayah, dirinya tak pernah meminta-minta untuk dihadirkan di hadapan MKD. Sebaliknya, MKD yang meminta dirinya untuk menjabarkan kata 'dapat' dalam Pasal 5 Tata Beracara MKD. Kata 'dapat' perlu dijelaskan untuk mengetahui posisi Sudirman Said ketika mengadu dan menyerahkan aduan dengan kop resmi kementerian.

Pakar bahasa di bidang sosiolinguistik ini pun akan berkirim surat kepada MKD, terkait tudingan Fadli yang menyebut dirinya anggota BIN. Surat sebagai bantahan bahwa dirinya anggota BIN.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyoalkan peran Yayah yang dimintai pendapat UU Nomor 17 Tahun 2015 MD3 yang sama dengan Bab IV Pasal 5 Tata Beracara di MKD soal pengadu. Fadli menuding Yayah anggota BIN.

"Ahli bahasa punya kemamapuan apa? masa ahli bahasa disuruh menafsirkan UU. Sudah gitu, ahli bahasanya juga dari BIN," kata Fadli, di Kompleks Parlemen, siang tadi.

Di mata Fadli, yang pantas menafsirkan UU adalah ahli hukum, bukan ahli bahasa. "Orangnya tidak dikenal, tidak punya kompetensi. Kalau yang dipanggil Badudu, bolehlah," ujar Fadli.


(ICH)