Paris Bersiaga Penuh Kawal COP21

Krisiandi    •    Selasa, 01 Dec 2015 05:28 WIB
cop21
Paris Bersiaga Penuh Kawal COP21
Sekelompok tentara Prancis berjaga di kawasan Crime, Paris, Senin (30/11/2015). Foto: Metro TV/Sandi Sunirja.

Metrotvnews.com, Paris: Pertengahan November 2014 dunia terguncang. Paris, Ibu Kota Prancis, salah satu negara anggota Uni Eropa diteror. Lebih dari 130 orang tewas dalam insiden ledakan bom dan serangan tembakan di enam lokasi itu.

Pada 30 sampai 11 November atau dua pekan setelah insiden teror itu, Paris menggelar konferensi perubahan iklim atau Conference of Parties (COP) 21. Tak kurang 400 ribu delegasi dari 195 negara hadir di kota mode itu. Sebanyak 151 di antaranya adalah kepala negara.

Metrotvnews.com berkesempatan meliput perhelatan tahunan yang dijadikan acuan PBB tentang perubahan iklim ini. Penjagaan keamanan Paris sungguh ketat. Negara pemilik hak veto itu tak mau kecolongan lagi.

Pantauan Metrotvnews.com, sejak dari Bandara Charles de Gaulle, polisi dan tentara bersenjata laras panjang memantau para penumpang yang baru mendarat di Bandara Internasional Paris itu. Tampak kelompok-kelompok polisi berjumlah lima sampai enam orang berlalu lalang. Belum lagi tentara yang juga memanggul senjata.

Tak terkecuali di kereta yang membawa penumpang dari bandara ke jantung Kota Paris. Tampak dua orang polisi berjalan menyusuri gerbong. Juga dengan senjata laras panjang. Tak ada senyum di wajah mereka. Serius.  

Di sudut Kota Paris, polisi dan tentara juga bersiaga penuh. Polisi bersepeda memantau kondisi. Berkelompok, para polisi berseragam biru itu berkeliling. Sementara tentara berdiam di beberapa titik. Tak lupa, senjata di gantungkan di bahu.

"Kami tak khawatir, Prancis harus menggelar konferensi ini, untuk kepercayaan dunia," kata Jacques, warga Paris di Bandara Charles de Gaulle kepada Metrotvnews.com.

"Kami percaya, dunia mendukung Prancis," lanjutnya.  

COP21 resmi dibuka kemarin. "Nasib umat manusia dipertaruhkan dalam konferensi ini," kata Presiden Prancis Francois Hollande dalam pernyataannya di Paris, menjelang dimulainya COP21, seperti dikutip AFP, Senin 30 September.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar 20 minutes, Hollande mengatakan pemimpin dunia akan bertemu di Paris. "Untuk menegaskan solidaritas mereka kepada Prancis", dan juga, "melanjutkan tanggung jawab mereka di tengah menghangatnya temperatur planet Bumi."

Sementara Presiden Joko Widodo di awal pidatonya menyampaikan dukacita mendalam atas aksi teror di Paris 13 November. Kepala Negara menyebut Islam tak pernah terlibat dalam aksi teror.  

"Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia menegaskan bahwa Islam mengajarkan perdamaian. Islam mengajarkan toleransi," kata Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, tindakan teror tersebut tidak ada kaitannya dengan agama, bangsa, dan ras.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyatakan untuk memberikan dukungan politik kuat terhadap suksesnya COP21.

Sebagai salah satu negara pemilik hutan terbesar yang menjadi paru-paru dunia, kata Presiden, Indonesia telah memilih untuk menjadi bagian dari solusi.

"Pemerintah yang saya pimpin, akan membangun Indonesia dengan memperhatikan lingkungan," terang Jokowi.

Presiden menegaskan bahwa Indonesia memiliki kondisi geografis yang rentan terhadap perubahan iklim karena dua pertiga wilayahnya terdiri atas laut, memiliki 17.000 pulau, banyak di antaranya pulau-pulau kecil, 60 persen penduduk tinggal di pesisir dan 80 bencana selalu terkait dengan perubahan iklim.


(AZF)