Ponsel Maroef Sudah di Tangan Jampidsus Kejagung

Lukman Diah Sari    •    Kamis, 03 Dec 2015 16:47 WIB
pencatut nama presiden
Ponsel Maroef Sudah di Tangan Jampidsus Kejagung
Jaksa Agung H.M. Prasetyo . (Foto: MI/Immanuel)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kejaksaan Agung diketahui telah meminjam telepon genggam milik Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin. Telepon itu dipinjam untuk menyelidiki kasus percakapan yang diduga dilakukan Setya Novanto bersama Maroef dan pengusaha Reza Chalid.
 
Jaksa Agung H.M. Prasetyo mengatakan, ponsel itu digunakan Maroef untuk merekam dugaan 'pemufakatan jahat'. Telepon diterima penyidik Jaksa Agung Muda Pidana khusus (Jampidsus).
 
"Betul (dipinjam). Semua untuk kepentingan penegakan hukum, proses hukum," kata Prasetyo di Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (3/12/2015).
 
Prasetyo mengaku, baru tahu penyidik meminjam telepon Maroef. Ia menilai hal itu adalah langkah tepat. "Saya baru dapat laporan dari Jampidsus tadi. Itu langkah tepat," ujarnya.
 
Prasetyo mengatakan, Kejagung akan memanggil para pihak yang terkait dalam rekaman tersebut untuk menguatkan adanya pemufakatan jahat yang dibentuk Novanto. "Kami ingin mengembangkan dan mencari bukti-bukri awal yang cukup," katanya.
 
Kejagung mendalami dugaan adanya permufakatan jahat oleh Novanto untuk melakukan tindak pidana korupsi. Dugaan tindak pidana korupsi yang didalami adalah kemungkinan ada permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana tercantum dalam Pasal 15 UU Tindak Pidana Korupsi No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Pasal itu menyebutkan, “setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan, atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana yang sama sebagaimana dimaksud Pasal 2, Pasal 3, Pasal 5.”
 
Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah menjelaskan, dalam tindak pidana korupsi, percobaan korupsi itu bobotnya sama dengan melakukan korupsi itu sendiri.
 
"Kalau pembunuhan, antara percobaan dengan pembunuhan itu dinilai berbeda, pidananya juga beda. Tidak demikian dengan tindak pidana korupsi," kata mantan Jaksa Agung Muda Intelijen itu.
 
Arminsyah menyampaikan pihaknya masih membutuhkan waktu untuk sampai pada kesimpulan. "Kami tuntaskan secepatnya," kata Arminsyah.


(FZN)