Dibawa ke Polda Bengkulu, Novel akan Ditahan?

Yogi Bayu Aji    •    Kamis, 03 Dec 2015 23:01 WIB
novel baswedan
Dibawa ke Polda Bengkulu, Novel akan Ditahan?
Penyidik KPK Novel Baswedan (ketiga kanan) berjalan dikawal penyidik Mabes Polri sesampainya di Bandara Fatmawati Bengkulu, Kamis (3/12). (Foto: antara)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan telah sampai ke Bengkulu. Namun, dia justru dibawa ke Polda Bengkulu, bukan Kejaksaan Negeri Bengkulu.

Novel mengatakan, Polda Bengkulu berencana menahannya. "Belum (ditahan), cuma akan dilakukan,"  kata Novel saat dihubungi wartawan, Kamis (3/12/2015).

Adik sepupu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan itu menolak ditahan polisi. Pasalnya, kata dia, berkas perkara kasus penganiayaan yang menjerat sudah lengkap.

"Sehingga apa urgensi bila dilakukan penahanan?," sambung Novel.

Dia pun berharap Polda Bengkulu bisa mengerti dan berpikir secara rasional. Sebagai penegak hukum, kata dia, Polda Bengkulu tidak boleh sewenang-wenang.

"Penyidik hanya boleh lakukan tindakan untuk kepentingan penyidikan,"  jelas dia.

Novel hingga kini masih berada di ruang Direskrimum Polda Bengkulu. Dia masih menunggu perkembangan lebih lanjut.

Hari ini, Novel Baswedan diketahui diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bengkulu usai dibawa penyidik Bareskrim ke Kejaksaan Agung. Dia sedang dilimpahkan dari kepolisian ke kejaksaan lantaran berkas perkara sudah lengkap alias P21.

Novel sejatinya dipanggil penyidik Bareskrim Kombes Daniel Adityajaya pada 23 November 2015 lalu untuk penyerahan berkas dan barang bukti ke jaksa penuntut umum pada Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung. Lantaran sedang umrah, dia baru memenuhi panggilan hari ini.

Dia diketahui disangka melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan luka berat seseorang di Pantai Panjang Ujung, Kota Bengkulu. Kasus itu dilaporkan pada 18 Februari 2004 oleh Brigadir (Pol) Yogi Haryanto.

Dia dituduh melakukan penembakan terhadap enam pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004. Penembakan yang dilakukan oleh anak buah Novel itu diduga mengakibatkan kematian seorang pelaku bernama Mulia Johani, alias Aan.

Novel yang saat itu menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dianggap bertanggung jawab atas penembakan tersebut. Akhirnya, Novel menjalani pemeriksaan kode etik di Mapolres Bengkulu dan Polda Bengkulu.

Sanksi teguran dijatuhkan sebagai pelanggaran kode etik atas perbuatan anak buahnya. Namun, setelah insiden itu, Novel masih dipercaya sebagai Kasat Reskrim di Polres Bengkulu hingga Oktober 2005.

Kasus ini meledak ketika dia selaku penyidik KPK mendalami Irjen Djoko Susilo yang ditetapkan sebagai tersangka kasus simulator SIM. Kepolisian bahkan sempat berupaya menangkapnya pada 2012 saat berada di gedung KPK namun batal.

Sempat mereda, kasus itu kembali berhembus ketika KPK berseteru dengan kepolisian di 2015. Novel sempat ditangkap pada Jumat 1 Mei dini hari di kediamannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, karena dinilai tidak memenuhi panggilan pertama dan kedua polisi.

Menghadapi perkara ini, Novel pernah mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Namun, permohonannya ditolak hakim yang menganggap sah penangkapan dan penahanan terhadap Novel.


(ALB)