Demi Negara, Maroef Siap Kapan pun Dipanggil Kejagung

Al Abrar    •    Jumat, 04 Dec 2015 00:47 WIB
pencatut nama presiden
 Demi Negara, Maroef Siap Kapan pun Dipanggil Kejagung
Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin (kiri) menghadiri sidang etik MKD DPR di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/12/2015).--Foto: Antara/M Agung Rajasa

Metrotvnews.com Jakarta: Sidang etik dengan terduga Ketua DPR Setya Novanto masih berlangsung hingga, Jumat (4/12/2015) dini hari. Sidang kini diskors 20 menit hingga pukul 01.40 WIB.

Di sela skors, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin menyebut, dirinya juga masih ditunggu oleh Kejaksaan Agung untuk dimintai keterangan, terkait rekaman 'Papa Minta Saham'.

"Saya sampaikan di samping di sini saya secara paralel diminta penyidik Jampidsus dan saya menunggu apakah masih ditunggu malam ini. Saya masih menunggu konfirmasi," kata Maroef di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Mantan Wakil Kepala BIN ini juga menegaskan, jika memang dipanggil dini hari, Maroef akan siap memberikan keterangan kepada Jampidsus. Dia mengaku, siap demi kepentingan bangsa dan negara.

"Saya siap, walaupun malam ini. Karena ini adalah pertanggungjawaban saya," tegas Maroef.

Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memutar rekaman utuh bukti dugaan pertemuan Ketua DPR Setya Novanto, pengusaha minyak M. Riza Chalid, dan Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin terkait perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Percakapan direkam saat ketiganya bertemu di Pacific Place di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, beberapa bulan lalu.

Rekaman itu merupakan bukti yang diserahkan Menteri ESDM Sudirman Said. terkait laporan dugaan pelanggaran etik yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Pemutaran rekaman itu dimulai sejak pukul 19.27 WIB hingga pukul 20.44 WIB. Bukan hanya presiden dan wakil presiden, ternyata banyak nama tokoh yang `dijual`. Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan paling banyak disebut, sampai 66 kali.

Ikut pula diseret-seret Menteri ESDM Sudirman Said, mantan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Deputi Kantor Staf Presiden Darmawan Prasodjo.

 


(ALB)