Nazar Beli Tanah & Bangunan Pakai Uang Korupsi Rp33 Miliar

Renatha Swasty    •    Kamis, 10 Dec 2015 19:23 WIB
nazaruddin
Nazar Beli Tanah & Bangunan Pakai Uang Korupsi Rp33 Miliar
M. Nazaruddin saat sidang kasus tindak pidana pencucian uang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (10/12/2015).

Metrotvnews.com, Jakarta: Muhammad Nazaruddin didakwa menyembunyikan uang hasil korupsi dengan menyimpan ke penyedia jasa keuangan dan membeli sejumlah tanah dan bangunan. Nazar diketahui membeli tanah dan bangunan senilai Rp33,194 miliar.

"Bahwa harta kekayaan terdakwa yang dengan sengaja ditempatkan ke dalam penyedia jasa keuangan menggunakan rekening atas nama orang lain dan rekening perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup dengan saldo akhir Rp50,205 miliar, dibayarkan atau dibelanjakan untuk pembelian tanah dan bangunan seluruhnya sebesar Rp33,194 miliar," kata Jaksa Kresno Anto Wibowo saat membacakan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Jaksa Anto membeberkan, Nazar sebagai pemilik Permai Grup sejak menjadi anggota DPR tidak lagi didaftarkan menjadi direksi maupun komisaris. Kendati demikian, Nazar masih mengendalikan perusahaan.

Bahwa dalam kurun waktu antara September 2009 sampai Oktober 2010, Nazar menerima uang dari PT Adhi Karya, PT Duta Graha Indah dan PT Pembangunan Perumahan yang merupakan imbalan karena telah mengupayakan proyek pemerintah pada 2009.

"Dengan jumlah penerimaan kurang lebih sebesar Rp76,536 miliar. Selain itu penerimaan imbalan, sumber penerimaan keuangan PT Permai Grup juga berasal dari keuntungan anak perusahaan yang tergabung dalam Permai Grup dengan total keuntungan 40 persen dari total nilai proyek yang dikerjakan sebesar Rp1,884 triliun," beber Jaksa Anto.

Adapun, uang-uang yang diterima itu, kata Jaksa Anto, patut diduga sebagai hasil tindak pidana korupsi berkaitan dengan jabatan terdakwa selaku anggota DPR. Selanjutnya uang itu disembunyikan atau disamarkan.

Nazar menempatkan harta kekayaan ke dalam perusahaan penyedia jasa keuangan menggunakan nama orang lain. Mantan Bendahara Umum partai Demokrat itu menempatkan uang di 23 rekening BRI, BNI, Bank Mandiri, dan Bank Sulut cabang Kelapa Gading.

Jaksa Anto juga mengatakan, Nazar membeli tanah dan bangunan di lima tempat. Nazar membeli tanah dan bangunan menggunakan nama Muhajidin Nur Hasim di Pancoran, Jakarta Selatan. Pembelian tanah dan bangunan seluruhnya berjumlah Rp13 miliar pada 30 Juli 2010.

"Terdakwa melalui Muhammad Nasir membuat akta pembatalan jual-beli dengan pengoperan hak terhadap tanah dan bangunan yang dibuat Notaris Widyatmoko agar seolah-olah tidak pernah terjadi pembelian itu," ujar Jaksa Anto.

Selanjutnya, Nazar membeli tanah dan bangunan pada 4 Agustus 2010 menggunakan nama Muhajidin. Pembelian menggelontorkan dana Rp15,500 miliar. Nazar melalui Aryu Devina juga membeli tanah dan bangunan pada 6 Agustus 2010 di Pasar Minggu sejumlah Rp524,800 juta. Rumah diatasnamakan Unang Sudrajat.

"Padahal harga sebenarnya Rp790 juta," beber Jaksa Anto.

Nazar melalui Aryu Devina juga membeli rumah di Kebayoran pada 18 Agustus 2010 dengan harga Rp3,850 miliar. Kepemilikan rumah atas nama istri Nazar, Neneng Sri Wahyuni.

Pada 21 September 2010 melalui Aryu Devina, Nazar membeli rumah di Pasar Minggu dengan harga Rp319 juta diatasnamakan PT Sanjico Abadi, anak perusahaan Permai Grup. Nazar juga diketahui menitipkan harta kekayaan dengan cara seolah-olah dijual, yakni tanah dan bangunan seharga Rp200 juta di Pekanbaru.

Nazar didakwa dan diancam pidana dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a, c, e Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU No. 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.


(TRK)