Kasus Kekerasan Seksual di Yogyakarta Meningkat Tajam

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 12 Dec 2015 13:21 WIB
kekerasan
Kasus Kekerasan Seksual di Yogyakarta Meningkat Tajam
Ilustrasi/123rf

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kepala Bidang Perlindungan Hak-hak Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, Waty Marliawati, mengatakan peristiwa kekerasan seksual di Yogyakarta masih menjadi permasalahan.

Berdasarkan catatannya, angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Yogyakarta sebanyak 400-an kasus pada 2014. Angka itu meningkat tajam pada 2015. Hingga November, angka kekerasan seksual mencapai  1.400-an kasus.

"Tingginya angka kekerasan itu karena telah munculnya kesadaran di masyarakat untuk melaporkan peristiwa yang dialami," kata Waty dalam diskusi publik bertema "Diam bukan Penyelesaian, Lawan Kekeerasan, Dukung RUU Penghapusan Kekerasan Seksual", di Den Nany Garden Resto, Yogyakarta, Sabtu (12/12/2015).

Waty menjelaskan, dari laporan yang ia terima, kekerasan yang dialami korban terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemerkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, intimidasi, pemaksaan aborsi, hingga pemaksaan perkawinan.

Faktor pemicunya berasal dari pengengaruh teknologi, lingkungan sekolah, ketidakharmonisan dalam rumah tangga, minimnya pengetahuan sistem reproduksi, bahkan sistem hukum yang belum memberikan perlindungan terhadap korban.

"Pelaku kekerasan seksual selama ini kerap bebas atau mendapat hukuman yang rendah," kata dia.

Meski berdasarkan presentase angka tampak tinggi, Waty mengklaim pemerintah telah melakukan beragam upaya, seperti pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan pada korban kekerasan seksual.

Aktivis Transgender, Mario Prajna Pratama, menambahkan kekerasan seksual juga terjadi di kalangan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Namun, kekerasan itu sangat jarang mendapat perhatian.

"Jika ada RUU Perlindungan Kekerasan Seksual, apakah mengakomodasi golongan LGBT di dalamnya? Pada dasarkan kita menginginkan seluruh masyarakat bebas dari segala bentuk kekerasan," kata dia.


(UWA)