Tech and Life

Elite Biker, Program Kesejahteraan untuk Pengendara GrabBike

Ellavie Ichlasa Amalia    •    Senin, 14 Dec 2015 09:52 WIB
tech and life
Elite Biker, Program Kesejahteraan untuk Pengendara GrabBike
Saat pihak manajemen dan biker berkumpul.

Metrotvnews.com, Jakarta: Kemacetan adalah salah satu masalah yang harus dipecahkan di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta. Salah satu solusi dari kemacetan adalah mendorong penggunaan kendaraan umum. Sayangnya, kualitas kendaraan umum di Indonesia, khususnya di Jakarta, masih kurang memadai.

Tidak jarang muncul berita mengenai tindak kejahatan yang terjadi di angkutan umum, mulai dari pencurian hingga pemerkosaan. Kendaraan umum yang ada saat ini juga dirasa tidak aman. Minggu lalu, baru saja terjadi dua kecelakaan pada bus metromini dan kopaja.

Go-Jek lalu muncul, menawarkan layanan pemesanan ojek secara daring (online). Dengan cepat, popularitas Go-Jek pun menanjak. Hal ini mendorong beberapa pihak untuk mengikuti jejak Go-Jek dan membuat layanan pemesanan ojek daring. Meskipun begitu, dari sekian banyak perusahaan, hanya ada satu perusahaan yang berhasil menyaingi kesuksesan Go-Jek. Adalah GrabBike, cabang perusahaan dari GrabTaxi.

Go-Jek dan GrabBike menawarkan jasa yang sama. Keduanya pun memiliki strategi yang tidak berbeda jauh. Saat satu melakukan promosi, yang lain pun akan melakukan hal yang sama. Hingga kini, perang harga masih terjadi. Namun, satu pihak yang paling diuntungkan adalah konsumen.

Tidak bisa tidak, Go-Jek dan GrabBike akan selalu dibanding-bandingkan. Karena Go-Jek hadir terlebih dulu, GrabBike yang mendapat cap sebagai 'peniru'.

Saat ditanya apa pendapat GrabBike karena dibilang peniru, Kiki Rizki, Country Head of Marketing GrabBike dan GrabExpress, menjawab dengan mengandaikan hubungan antara Go-Jek dan GrabBike layaknya kakak beradik.

"Saat sang adik melihat sang kakak melakukan sesuatu, mungkin dia ingin melakukan hal yang sama, tapi dengan cara yang lebih baik," kata Kiki saat dijumpai di Senayan City. "Karena healthy competition memang seharusnya seperti itu, kita belajar dari satu sama lain," katanya.

Satu hal unik yang GrabBike lakukan yang belum pernah dilakukan oleh Go-Jek adalah pemilihan 200 pengendara, sebutan pengemudi GrabBike, sebagai elite biker. Seperti namanya, Elite Biker terdiri dari para pengendara sepeda motor yang memiliki performa terbaik.

Salah satu karakteristik penilaian ini adalah bintang yang didapatkan oleh biker dari pelanggan. Pemilihan anggota Elite Biker dilakukan setiap 3 bulan.



Kiki menjelaskan, orang-orang yang menjadi seorang Elite Biker mendapatkan beberapa fasilitas khusus dari GrabBike. Salah satunya adalah asuransi kecelakaan yang lebih tinggi dari rekan-rekan biker lainnya. Kiki mengatakan jumlah asuransi ini bisa mencapai Rp55 juta.

Fasilitas lain yang didapatkan oleh anggota Elite Biker adalah cicilan motor murah. Mereka yang telah memiliki anak juga dapat mendapatkan beasiswa untuk sang anak. Dari 200 Elite Biker, satu yang terbaik bahkan akan dihadiahi motor.

Kiki mengatakan, alasan GrabBike memberikan bantuan berupa cicilan motor murah adalah karena mereka juga ingin membantu memberikan fasilitas yang memadai. "Sehingga para biker dapat memperbaiki performa mereka. Dengan motor baru, keamanan juga menjadi lebih baik," kata Kiki.

Kiki menyebutkan, program Elite Biker ini adalah usaha GrabBike untuk mensejahterakan para pengendara GrabBike. "Kami kan sebenarnya perusahaan aplikasi. Tanpa biker, GrabBike bukan apa-apa," kata Kiki merendah.

Sebagai gantinya, GrabBike berusaha untuk memastikan sistem mereka dapat bekerja dengan baik. Jakarta memiliki populasi yang besar. Hal ini berarti, potensi pelanggan GrabBike di Jakarta juga besar. Karena itulah, GrabBike berusaha untuk memastikan server mereka memang dapat mengatasi semua permintaan yang masuk.

Selain itu, pihak GrabBike juga berusaha untuk memastikan para biker memberikan pelayanan yang baik pada para penumpang. Kiki mengatakan, saat ini, sebagian besar biker GrabBike memiliki rating bintang 4 dari rating tertinggi 5 bintang.

GrabBike juga berusaha membantu performa para biker dengan cara memberitahu informasi yang dapat membantu mereka, seperti saat ada kemacetan di sebuah lokasi. Dengan begitu, para biker dapat menghindari tempat yang macet tersebut.

Apakah GrabBike tidak tertarik untuk melakukan ekspansi?
GrabBike pertama kali diluncurkan pada tanggal 20 Mei lalu. Sejak saat itu, kini GrabBike telah beroperasi di Jakarta, Depok, Tengerang dan Bekasi. Melihat Go-Jek, saingan utama GrabBike, telah melebarkan sayap hingga di 10 kota, tidak bisa dipungkiri, muncul pertanyaan apakah GrabBike melakukan hal yang sama.

Meski di Indonesia GrabBike baru beroperasi di kawasan JaDeTaBek, ternyata, mereka juga telah ada di 2 negara Asia Tenggara lainnya yaitu Vietnam dan Thailand. Sama seperti di Indonesia, di kedua negara tersebut, GrabBike juga hanya beroperasi di kota-kota tertentu saja.



Kiki menjelaskan, kota-kota besar di Indonesia, atau di negara lain, mungkin memang banyak jumlahnya. Tetapi, tidak semua kota tersebut memerlukan jasa yang ditawarkan oleh GrabBike. Inilah yang menjadi alasan GrabBike mengapa mereka tidak begitu agresif untuk meluncurkan layanannya di kota-kota besar lain di Indonesia. 

"Saat ini, kami sedang ada dalam fase pertumbuhan. Tentu saja, pemikiran untuk melakukan ekspansi itu ada," kata Kiki. "Tapi kami tidak ingin gegabah." Dia tidak mau GrabBike ada di banyak kota tanpa "menjejak" terlebih dulu. "Itulah alasan mengapa GrabBike baru diluncurkan bulan Mei lalu dan tidak sebelumnya. Hal itu karena kami ingin memastikan bahwa aplikasi kami memang lebih baik, biker kami lebih baik," katanya.

Dia juga ingin lebih mengenal penumpang mereka, tentang apa yang mereka butuhkan. Dia merasa, melakukan ekspansi hanya atas dasar keinginan adalah hal yang tidak strategis. Dia lebih memilih untuk menguasai satu pasar dulu sepenuhnya sebelum GrabBike memperluas jangkauan mereka ke kota lain.

"Kota-kota besar di Indonesia memang banyak, tetapi bukan berarti setiap kota-kota besar tersebut memerlukan ojek," kata Kiki.

Lalu, apa pendapat Kiki tentang Go-Jek, yang meski berhasil memperluas jangkauan mereka hingga ke 10 kota di Indonesia, tetapi sering diterpa masalah?

Sambil bercanda, Kiki menjawab, "Sudah, tidak usah ngomongin dapur orang, ngomongin dapur saya saja ya. Makanannya lebih enak lho."


(MMI)