Penjualan Pakaian Berikan Devisa Bali USD5,47 Juta di Oktober 2015

   •    Minggu, 20 Dec 2015 13:34 WIB
bali
Penjualan Pakaian Berikan Devisa Bali USD5,47 Juta di Oktober 2015
Illustrasi. ANTARA FOTO/Maulana Surya.

Metrotvnews.com, Denpasar: Bali menghasilkan devisa sebesar USD5,47 juta dari pengapalan pakaian jadi bukan rajutan selama Oktober 2015 atau meningkat 39,84 persen dibandingkan September 2015 yang tercatat USD 3,91 Juta.

"Perolehan devisa itu jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat 8,78 persen, karena Oktober 2014 meraup USD5,03 juta," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)  Provinsi Bali, Panasunan Siregar dikutip dari Antara, Minggu (20/12/2015).

Ia mengatakan, pakaian jadi bulan rajutan itu memberikan kontribusi sebesar 11,26 persen dari total ekspor Bali sebesar USD48,64 juta selama Oktober 2015 atau meningkat 21,49 persen dibanding bulan sebelumnya tercatat USD40,03 juta.

Devisa tersebut didapatkan melalui pasar Amerika Serikat (AS) yang menyerap  23,46 persen, menyusul Australia 17,22 persen, Singapura 7,89 persen, Jepang 2,63 persen, Hong Kong 5,09 persen dan Prancis 4,86 persen. Selain itu juga menembus pasaran Taiwan 0,02 persen, Jerman  2,35 persen, Tiongkok 1,19 persen, Belanda 0,45 persen dan sisanya 34,84 persen menembus berbagai negara lainnya.

Seorang Pengusaha Eksportir Pakaian Ni Made Sumantri menjelaskan, pakaian jadi (garmen) yang diperdagangan ke luar negeri bukan  produksi  pabrik, namun dibuat secara manual sehingga memiliki nilai lebih di mata  konsumen luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, Australia, dan Eropa.

"Pakaian Bali terutama yang dibuat dan diisi dengan monte dan bordiran yang diproduksi secara manual memiliki nilai seni lebih apalagi rancangannya disesuaikan dengan perkembangan mode di negara konsumen dipadukan dengan muatan lokal," ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan Luar  Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Made Suastika dalam kesempatan terpisah menjelaskan, pihaknya melakukan program pendampingan tenaga ahli perancang busana (desainer) untuk perajin usaha tenun dengan harapan mampu meningkatkan devisa dari pengiriman jenis mata dagangan tersebut ke pasar ekspor.

Pendampingan tenaga ahli itu masih terbatas untuk usaha tenun di Kabupaten Klungkung dan Gianyar. Upaya itu diharapkan mampu meningkatkan  kualitas desain pakaian untuk memenuhi selera konsumen di mancanegara.

Terobosan itu dilakukan mengingat perolehan ekspor nonmigas Bali, khususnya dari tekstil dan produk tekstil (TPT), semakin menurun. Hal itu akibat usaha TPT di Bali kalah bersaing dengan usaha serupa yang  berkembang di Tiongkok dan India.

Hal itu karena usaha TPT di Bali masih mengimpor bahan baku dari mancanegara, sedangkan kedua negara pesaing itu memiliki bahan baku  berupa kain sutera sehingga tidak mendatangkan lagi dari luar negeri," ujar MadeSuastika.


(SAW)