Mampukah Metromini Bertahan di Ibu Kota?

K. Yudha Wirakusuma    •    Selasa, 22 Dec 2015 10:49 WIB
metromini
Mampukah Metromini Bertahan di Ibu Kota?
Angkutan umum jenis metromini menunggu penumpang di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Senin (19/11)--MI/Angga Yuniar

Metrotvnews.com, Jakarta: Metromini tengah menunggu nasib. Berbagai komentar miring kerap dialamatkan ke alat trasportasi murah meriah ini. Tapi siapa sangka Metromini memiliki sejarah penting dan panjang.

Masa kejayaan Metromini terjadi tahun 1962. Informasi yang dihimpun Metrotvnews.com, sejarah Metromini berawal dari sebuah acara Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang atau of the New Emerging Forces (GANEFO).

GANEFO adalah ajang olahraga yang diselenggarakan Presiden Soekarno tahun 1962, sebagai tandingan Olimpiade. Kala itu Soekarno meminta Wali Kota Jakarta, saat itu belum Gubernur, Sumarno, menyediakan lebih banyak armada.

Armada tersebut untuk mengangkut atlet dari berbagai negara. Setelah pesta olahraga usai, Metromini beredar di jalanan tanpa ada manajemen. Pada era Gubernur Ali Sadikin, tahun 1976 dibentuk PT Metromini untuk menaungi bus-bus tersebut. Saat itu jumlah armada mencapai 6.000-an. Pemiliknya ada sekitar 2.063 orang.

Waktu berjalan, sebagai alat transportasi Metromini kian tak terurus. Metromini mengidap banyak masalah. Armadanya tua, sopir ugal-ugalan, dan banyak melanggar aturan. Metromini kian terpuruk setelah sejumlah kecelakaan merenggut korban jiwa. Misalnya, Metromini tertabrak kereta api karena menerobos perlintasan di Angke, Jakarta Barat. Sebanyak 18 orang penumpang meninggal.

Pekan lalu, Metromini menabrak ibu dan anak di Kembangan, Jakarta Barat. Sang ibu terluka, sementara anaknya meninggal seketika.

Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta menggalakkan razia. Hingga Sabtu, 19 Desember sebanyak 217 Metromini dikandangkan di Rawa Buaya lantaran tak laik jalan.

Tak terima armadanya dikandangkan, sopir Metromini menggelar aksi mogok. Bukannya mendapat simpati, Gubernur DKI Jakarta malah bersyukur. Bahkan orang nomor satu di Jakarta ini berharap Metromini mogok selamanya.

"Saya senang sekali (sopir Metromini) mogok operasi. Tidak perlu capek menangkap dan mengandangkan Metromini. Sudah mogok semua, enak banget," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin 21 Desember.
 
Menurut Ahok, tanpa Metromini masyarakat bisa menggunakan angkutan alternatif lain. Ahok tetap optimistis sistem rupiah per kilometer menjadi solusi transportasi di Ibu Kota. Ahok yakin transportasi yang tidak ikut sistem rupiah per kilometer akan bangkrut.
 
Sejumlah warga senang Metromini mogok. Sebab arus lalu lintas diklaim menjadi lebih lancar. Sebagian lainnya harus sengsara saat kendaraan yang didominasi warga orange dan biru ini ngambek.

Tanti Amalia, 35, mengatakan masih membutuhkan Metromini sebagai alat angkutan sehari-hari. "Kalau tidak ada Metromini itu ribet," kata dia kepada Metrotvnews.com, Senin 21 Desember.

Sementara Kirana, warga Cileduk, menyesalkan aksi sopir Metromini. Ia mengaku tidak tahu sopir Metromini di Terminal Blok tidak beroperasi.

Yati, 43, pedagang asongan, juga merasakan kesulitan tiga hari terakhir lantaran tidak bisa berjualan di metromini. Pendapatannya menurun drastis sejak Sabtu 19 Desember.

Biasanya, ia mendapat pemasukan sebanyak Rp1 juta dalam sepekan. Namun dia harus gigit jari karena tidak bisa jualan. Lantas, mampukah Metromini bertahan di Ibu Kota?


(YDH)