Tips Knowledge

Pengemudi Mengantuk, Efeknya Lebih Parah dari Mabuk

M. Bagus Rachmanto    •    Jumat, 23 Jun 2017 13:30 WIB
tips knowledge
Pengemudi Mengantuk, Efeknya Lebih Parah dari Mabuk
Hindari mengemudi dalam keadaan kantuk dan lakukan istirahat. ScienceVibe

Metrotvnews.com, Jakarta: Melakukan perjalanan jauh ke kampung halaman atau mudik lebaran membuat kondisi badan lelah. Jika sudah begitu biasanya rasa kantuk menyerang dan bisa dialami siapa saja. Tak hanya pada mereka yang tanpa aktivitas. orang yang beraktivitas seperti berkendara pun bisa mengalami kantuk tak tertahankan.

Praktisi kesehatan tidur dr. Andreas Prasadja menyebut mengantuk masih menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan lalu lintas. Menurut dia, berkendara dalam kondisi mengantuk lebih berbahaya ketimbang mabuk.

"Pengemudi tidak boleh kurang tidur, karena hanya pada saat tidur itulah kemampuan berkendara itu dibangun. Tidak ada vitamin atau stimulan yang bisa menggantikan efek restoratif tidur," ungkap Andreas dalam Metro Plus, Senin 19 Juni 2017.

Andreas mengatakan tanda-tanda mengantuk saat berkendara itu sederhana, menguap. Akan lebih berbahaya jika pengemudi sudah mulai menyandarkan kepalanya di headrest mobil dan tidak menyadari bahwa jarak perjalanan sudah melewati titik tertentu.

Menurut Andreas kondisi semacam itu sudah mengindikasikan bahwa fungsi otak sudah menurun dan sudah seharusnya pengemudi untuk berhenti dan istirahat.

"Tiga jam sekali harus istirahat. Kalau mengantuk tidur dulu, kalau tidak ya stretching dulu. Pengendara motor juga sama, karena physical challenges-nya lebih berat, segera cari tempat istirahat," katanya.

Andreas mengatakan hal penting yang harus diperhatikan oleh pengemudi yang akan melakukan perjalanan mudik tidak hanya soal mempersiapkan kendaraan, namun juga fisik yang prima. Jika memungkinkan, mengajak serta saudara yang bisa diajak berkendara bergantian akan jauh lebih baik.

Beberapa orang beranggapan bahwa kantuk saat berkendara bisa ditangani dengan mengonsumsi minuman berenergi atau yang mengandung stimulan seperti kopi. Andreas mengatakan hal itu boleh saja asalkan pengemudi tahu cara untuk memaksimalkan fungsi kafein dalam minuman-minuman tersebut.

"Pinggirkan kendaraan, silakan minum penambah energi atau kopi. Setelah itu tidur dulu 20-30 menit baru lanjut berkendara. Selain mendapatkan manfaat tidur seperti konsentrasi dan kewaspadaan kembali, juga kafein itu baru akan bekerja setelah 30 menit dikonsumsi," katanya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, kata Andreas, sebelum berkendara pastikan malam sebelumnya sudah tidur minimal 6 jam dengan syarat pada malam-malam sebelumnya jam tidur normal. Selain itu disarankan untuk berkendara di waktu biasanya aktif, jangan di waktu tidur seperti pada malam hari untuk menghindari kantuk.

"Kenali dan hindari obat-obatan yang bisa membuat mengantuk. Sekadar kafein atau penambah energi akan membantu tetapi harus tahu cara mengonsumsinya. Tetap istirahat dan minum lebih dulu akan jauh lebih efektif dibandingkan memaksa terus berkendara," jelasnya.


(UDA)