Tips Knowledge

Usir Embun di Lampu Mobil, Sepele Tapi Sulit

M. Bagus Rachmanto    •    Selasa, 16 May 2017 08:53 WIB
tips knowledge
Usir Embun di Lampu Mobil, Sepele Tapi Sulit
Bersihkan embun di lampu mobil bikin pencahayaan optimal. Youtube

Metrotvnews.com, Jakarta: Lampu utama/headlamp mobil yang berembun, kerap jadi pekerjaan rumah atau PR pemilik untuk membersihkannya. Lantaran ini terkadang menganggu pencahayaan, terutama di malam hari atau saat musim hujan. 

Agung yang buka bengkel servis khusus lampu mobil di jalan Cut Mutiah, Bekasi Timur, Jawa Barat ini, punya beberapa analisis terkait masalah lampu mobil berembun. Menurutnya, udara lembab akan masuk perlahan melewati lubang udara yang berfungsi untuk mengurangi tekanan saat temperatur turun. Hal ini normal karena embun seketika menguap ketika udara luar mulai panas. 

“Tapi tidak semua kendaraan seperti itu. Embun biasanya tidak bisa hilang saat terkena panas matahari atau saat lampu dinyalakan untuk kondisi lampu depan yang sudah pernah dibuka/diservis. Hal itu terjadi karena ada air yang masuk dari segel yang tidak rapat,” kata Agung.

Umumnya, area yang paling cepat terbebas dari embun ialah yang paling dekat dengan bohlam, karena suhu lebih hangat dan mampu menyerap kelembaban udara.

Cara termudah mengatasinya adalah dengan membiarkan lampu depan menyala sampai titik air atau embun menghilang/kering. Namun cara serupa tak bisa dilakukan jika sudah ada genangan air di bagian bawah lampu. Andai mendapat skenario seperti itu, cara yang paling ampuh adalah membuka lampu kemudian dikeringkan dan dibersihkan.

Sangat disarankan untuk membersihkan air/embun di lampu depan dengan cara dibuka. Lalu harus menutup kembali segel dengan rapat dan benar. Cara itu dilakukan agar udara tidak masuk (kedap udara).

Agung menyarankan, untuk mendapatkan hasil yang optimal sebaiknya pembersihan diserahkan kepada ahlinya. Sebagai gambaran, bengkel servis lampu mobil di tempatnya punya tarif sekitar Rp350 ribu untuk sepasang lampu mobil jenis Avanza. “Harga bisa negosiasi. Kita juga harus melihat dulu kerusakannya,” tutup Agung.


(UDA)