Tips Mudik Aman

Menerobos Pintu Perlintasan KA Bisa Dipenjara lho

Ekawan Raharja    •    Rabu, 14 Jun 2017 20:20 WIB
tabrakan kereta api
Menerobos Pintu Perlintasan KA Bisa Dipenjara <i>lho</i>
Proses evakuasi tabrakan minibus vs KA Walahar Ekpres di Senen, Jakpus, Selasa (13/6/2017). Dua korban ditemukan dalam kondisi tewas terbakar. MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com: Ada banyak perlintasan kereta api di sepanjang jalur mudik di Pulau Jawa dan sebagian besar sudah dilengkapi pintu dan ada penjaganya. Tapi kecelakaan masih bisa terjadi bila pengendara masih nekat menerobos pintu perlintasan yang hampir atau sudah tertutup.

Bisa saja si penerobos pintu perlintasan bisa lolos dari maut, tetapi banyak juga yang tidak. Contoh kasus terbaru adalah tabrakan antara sebuah mobil vs KA Walahar Ekpres di perlintasan Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (13/6/2017). Pengendara dan penumpang minibus tewas di tempat dan beberapa gerbong terbakar hebat.



Maka jelas menerobos pintu perlintasan KA sangat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Di sisi lain perlu diingat bahwa menyerobot pintu perlintasan kereta api, ternyata merupakan tindak pelanggaran pidana dan ada sanksi hukumnya. Aturannya ada di UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan UU 23/2007 tentang Perkeretaapian.

Di dalam pasal 124 UU 23/2007 tentang Perkeretaapian disebutkan bahwa;

Pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Sedangkan pasal 114 UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan bahwa: "Pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib:
a. berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain;
b. mendahulukan kereta api; dan
c. memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel Sanksi hukum bagi penerobos pintu perlintasan kereta api, diatur dalam pasal 296 dari UU yang sama, bahwa:

"Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor pada perlintasan antara kereta api dan Jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah)"

Nilai denda tertingginya memang tergolong ringan, bahkan sebenarnya terlalu ringan. Tetapi jangan rendahnya nilai denda itu ditambah tidak ada polisi di lokasi, merupakan alasan bagi Anda menerobos pintu perlintasan kereta api.

Apa pun alasannya -entah karena dikejar penagih utang atau kebelet ke toilet- keselamatan Anda dan keluarga terlalu mahal untuk dipertaruhkan.


(LHE)